SHARE
CARAPANDANG.COM - Asian Games 2018 memang menjadi buah bibir, tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh Asia. Tanggal mainnya pun sudah mendekati, tanggal cantik 18/8/2018 akan menjadi saksi sejarah di mana Indonesia merasa sangat terhormat dengan kedatangan 44 negara partisipan. Namun menjelang opening ceremony Asian Games 2018, banyak hal atau kebijakan yang terkesan dipaksakan dan akhirnya memakan korban. Menurut carapandang.com, inilah kebijakan yang terkesan dipaksakan agar Asian Games 2018 ini berjalan dengan baik dan lancar.

Kebijakan kendaraan ganjil-genap yang terkesan dipaksakan

Banyak kebijakan baru yang diterapkan menjelang datangnya Asian Games 2018, salah satunya adalah kendaraan ganjil-genap. Memang hal ini sudah terlebih dulu diterapkan untuk mengurangi kemacetan di beberapa titik. Namun, demi menjaga citra Indonesia agar tak terkesan “macet banget” di hadapan 44 negara tamu, kebijakan ini diperluas. Kebijakan ganjil-genap yang awalnya hanya berlaku 8 jam di jalan-jalan tersebut diperluas.

Peraturan tersebut menjadi 15 jam durasi (dari jam 6 pagi hingga 9 malam), dengan rute tambahan yaitu Rasuna Said, A Yani, Pondok Indah, Gandaria, hingga RA Kartini. Dikutip dari tirto.id, banyak pengguna jalan yang merasa dirugikan karena menambah ongkos untuk naik transportasi pribadi. “Sama sekali tidak efektif kalau tujuannya buat mengurangi kemacetan. Motorkan, masih tetap banyak. Kalau mau sekalian motor dilarang,” ungkap Pengamat Transportasi, Djoko Setiowarno.

Siswa dikorbankan agar kemacetan Jakarta berkurang

Tak hanya kebijakan ganjil-genap saja yang diusulkan Pemerintah untuk mengurangi kemacetan Jakarta. Demi Asian Games, Pemprov DKI Jakarta juga ngide untuk meliburkan sekolah ketika Asian Games 2018 berlangsung. Kapolri, Tito Karnavian menyampaikan bahwa opsi meliburkan anak sekolah bisa mengurangi kemacetan hingga 11 persen, dikutip dari Kompas.com.

Keputusan ini memang belum final, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengungkapkan bahwa kebijakan ini akan dipertimbangkan setelah melihat evaluasi simulasi lalu lintas. Jika memang kebijakan ganjil-genap tak begitu berpengaruh, maka opsi meliburkan anak sekolah bisa jadi dilaksanakan. Bagaimana dong kualitas SDM kita? Demi Asian Games waktu belajar mereka di sekolah harus dikorbankan.

Tak hanya kebijakan-kebijakan Pemerintah saja yang terkesan dipaksakan demi Asian Games 2018 ini, tetapi juga perilaku masyarakatnya. Mulai dari tak bisa menjaga infrastruktur Asian Games hingga cuek-bebek dan tak mau tahu soal ajang ini. Cuek juga bukan berarti bagus, malah dapat menjadi serangan balik juga untuk negeri ini. Maka dari itu, di sisa beberapa hari menuju opening ceremony Asian Games 2018 ini, mari bersatu sebagai rakyat Indonesia yang bangga untuk menyambut 44 negara tamu di rumah kita. Cukup tahan untuk mengikuti kebijakan Pemerintah yang sudah kepalang tanggung dan tak mengacaukan infrastruktur yang telah dibangun.

SHARE