SHARE
Setiap anak yang terlahir memiliki keunikan masing-masing. Tidak semua bayi terlahir secara sempurna baik fisik maupun psikisnya, bila boleh memilih pasti setiap orang ingin lahir dan hidup dengan sempurna tanpa kekurangan yang berarti. Anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah produk Tuhan yang gagal karena Tuhan tidak pernah gagal. Mereka merupakan anak istimewa. Tugas kita adalah memberikan inspirasi dan motivasi kepada anak. Sekecil apapun anak berkebutuhan khusus masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan, mereka juga berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar. 

CARAPANDANG.COM - Para anak berkebutuhan ini mendapat stigma tidak berprestasi, padahal anak-anak ABK bisa tumbuh dan berkembang dilingkungan masyarakat, bagaimana keluarga membentuknya. Masih banyaknya pandangan masyarakat negatif yang ada pada disabilitas, menyebabkan disabilitas menjadi masalah sosial. 

Seperti halnya gangguan Cerebral Palsy yang diderita Yasmin Azzahra Rahman semenjak kecil membuat ia gagap berbicara. Fungsi motorik yang rusak membuatnya harus menggunakan kursi roda. Tapi siapa sangka, gadis berkebutuhan khusus kelahiran 13 November 1999 ini bisa menghasilkan karya sebuah buku.

Buku pertama dan kedua Yasmin berisi tentang diary berjudul My Story in Holland diterbitkan oleh Mizan. Buku ketiga, From Holland With Love diterbitkan Gramedia pada sekitar 2015 lalu. Semua karya ini bercerita tentang perjalanannya menjadi anak berkebutuhan khusus ketika di Belanda dan perjuangannya untuk sekolah selama di Indonesia. Satu cerita yang selalu menginspirasi khalayak ramai seperti dilansir, Detik (24/4/ 2017).

Cerita di atas menjadi story telling bagi sebagian anak berkebutuhan khusus untuk ikut andil dalam mencerdaskan kehidupanya. Hal ini membuat siswa ABK semakin percaya diri, bahwa dengan dukungan semua pihak terkait program “gemar membaca” akan sangat mempengaruhi produktifitas dan kemampuan anak-anak ABK dalam meningkatkan tingkat literasi mereka. Lalu bagaimana ABK yang tidak medapatkan layanan khusus?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sekaligus Presiden Southeast Asian Ministers Of Education Organization (SEAMEO) Council  (Presiden SEAMEO), Muhadjir Effendy dikutip Republika, Sabtu (03/03/2018) mengatakan bahwa dua tahun ke depan pihaknya akan fokus untuk memberikan layanan pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia. 

Permasalahan yang ditemukan adalah keberadaan SLB tidak mudah ditemukan terutama di daerah-daerah, sehingga dengan adanya sekolah inklusi diharapkan para ABK dapat bersekolah di sekolah reguler. Untuk menyiapkan program inklusi dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk guru dan anak-anak yang bisa menerima keberadaan ABK tersebut.

Anak berkebutuhan khusus perlu dirangsang dalam aktivitas menulis. Aktivitas ini selalu berkaitan dengan membaca. Dalam dunia literasi, keduanya sama sekali tidak dapat dipisahkan. Bila seseorang menuliskan sesuatu, pada prinsipnya orang tersebut ingin agar tulisannya dibaca orang lain; atau paling sedikit tulisan tersebut dapat dibaca sendiri di kemudian hari. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa selain menambah wawasan, membaca buku juga dapat menstimulasi mental, mengurangi stress, melatih keterampilan berpikir dan menganalisa, hingga meningkatkan kualitas memori.

Dalam merespon rendahnya tingkat literasi Anak Berkebutuhan Khusus, Presiden SEAMEO, Muhadjir akan menfokuskan untuk mengembangkan pendidikan matematika dan sains di Indonesia. “Kalau dari segi materi kita fokus ke matematika sama sains dan literasi. Untuk yang sifatnya kelembagaan kita fokus untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Muhadjir saat ditanya usai penutupan kongres para ilmuan muda itu.

Selama ini, penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau anak dengan disabilitas lebih banyak dilakukan di satuan pendidikan khusus atau Sekolah Luar Biasa (SLB). Padahal, tidak semua daerah di Indonesia memiliki SLB.

Respon tersebut tampak nyata dari Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017 menyebutkan, dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia, 62 di antaranya tidak memiliki SLB. Jumlah 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia pun baru 10 persen yang bersekolah di SLB. Dibutuhkan SDM termasuk guru dan tentu anak-anak dilingkungan sekolah yang mampu menerima keberadaan ABK tersebut. Data ini menjelaskan bahwa terjadi kekerasan terhadap ABK, lebih kepada kecemasan karena lingkungan yang belum siap untuk menerima keberadaan para anak berkebutuhan khusus tersebut.

SHARE