SHARE
CARAPANDANG.COM - Cerita menarik ini akan terenyuh dengan kabar dari Yogyakarta. Sebanyak 103 anak berkebutuhan khusus (ABK) yang menempuh pendidikan di SLB Negeri 2 Yogyakarta mengikuti gerakan literasi 15 menit. Gerakan yang diprakarsai Balai Bahasa DIY dan Paguyuban Duta Bahasa DIY itu digelar di SLB Negeri 2 Yogyakarta, Jalan Panembahan Senopati, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Jumat (4/8/2017).

Disabilitas punya hak yang sama, siapapun dasabilitasnya punya hak sama yang harus dipenuhi, misalnya guru ngajar harus dengan sabar, itu memang hak anak mendapatkan pelayanan yang terbaik. Ternyata memang belum semua siswa ABK membaca dengan lancar. Ada yang masih membaca cerita dengan terbata-bata dan ada pula yang masih mengeja beberapa kata.

Kendati begitu, siswa ABK terlihat antusias ketika membaca cerita di hadapan teman-temannya. Tanpa diperintah, siswa ABK berlomba-lomba mengangkat tangannya untuk menunjukkan dirinya ingin membaca di hadapan temannya. (Kompas, 2017). 

Hal ini terlihat pula dari lebih dari 1.500 anak disabilitas hadir di Pendopo Sabha Swagata Banyuwangi. Mereka antusias memeriahkan Festival Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dalam festival tersebut mereka saling unjuk kreasi menampilkan bakat dan keahliannya. Ada yang jadi dalang, bermain catur, menari, hingga menjadi pendongeng. Walaupun memiliki kondisi berbeda dengan anak pada umumnya, ABK jangan dipandang sebelah mata. ABK sama halnya dengan anak lainnya memiliki bakat-bakat istimewa. Hal tersebut tampak saat di ruang pameran acara. Lukisan maupun hasil kerajinan tangan lain yang terpampang di koridor adalah hasil karya ABK. 

Sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Garut menggelar acara Gerakan Literasi Sekolah untuk Anak berkebutuhan Khusus di Alun-alun Garut. Ratusan anak berkebutuhan khusus se Provinsi Jawa Barat ikut meramaikan Gerakan Literasi Sekolah ini. Rabu (07/03).

Bersama Ratusan anak berkebutuhan khusus, ikut pula perwakilan Guru dan Kepala Sekolah dari 27 Kabupaten/Kota se-Jawa Barat di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang mementaskan berbagai ragam seni dan budaya. Antusias pemerintah dalam memberdayakan ABK perlu mendapat respon positif dari masyarakat. Masyarakat harus terus mendukung gelora literasi 15 menit yang telah diwujudkan pemerintah. Jangan sampai keterbatasan yang dimiliki tidak membuat mereka menjadi terhambat untuk menorehkan suatu karya, bahkan prestasi baik di dunia Akademis, maupun Non Akademis.

Studi analisa yang dilakukan Rikrik Triwiaty dan Musjafak Assjari (2017) menjelaskan bahwa Program Literasi Sekolah Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa Tunanetra SDLB Di SLB Cimahi memberikan gambaran kondisi faktual program literasi sekolah bagi siswa tunanetra tingkat sekolah dasar secara faktual pelaksanaan program literasi sekolah belum maksimal. 

Perlunya hal-hal yang perlu dikembangkan dalam perumusan program literasi yaitu kegiatan yang lebih variatif, media dan strategi yang sesuai, adanya program tertulis yang jelas. Untuk mencapai hasil yang maksimal perlu pelaksanan program literasi sekolah yang berkelanjutan.

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Mendikbud, sesuai dengan keinginan Presiden RI, Joko Widodo yang ingin memperluas akses pendidikan, sehingga semua anak usia sekolah bisa mendapatkan pelayanan yang sama, baik yang ABK ataupun anak yang tinggal di daerah 3T. “Baik yang normal maupun yang menderita atau yang punya pengecualian dan ini kita akan lebih memperhatikan kepada para siswa yang disebut berkebutuhan khusus itu,” kata Muhadjir.

Untuk itu, perlunya menopang kompetensi abad ke-21 dimiliki oleh siswa, tidak terkecuali oleh siswa sekolah luar biasa (SLB). Sekolah sebagai organisasi pembelajaran bersama para pembangku kepentingannya harus menjadi individu pembelajaran sepanjang hayat dan berkolaborasi mempraktikkan kegiatan-kegiatan pengelolaan pengetahuan. Salah satunya melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang mengembangkan keterampilan berbahasa meliputi menyimak, berbicara, dan membaca serta menulis. Namun, pada implementasinya aktivitas itu perlu disesuaikan dengan hambatan yang dimiliki peserta didik ABK.
 

SHARE