SHARE
CARAPANDANG.COM – Tiap tanggal 28 Oktober dimaknai sebagai peringatan Sumpah Pemuda. Hal tersebut bermakna elan vital pemuda dalam setiap degup lembar perjuangan bangsa. Tentulah Anda ingat dengan bunyi Sumpah Pemuda sebagai berikut:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Penyelenggaraan Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 merupakan bagian dari Festival Literasi Sekolah dihelat bertepatan dengan Bulan Bahasa. Maka tepatlah jika pertanyaan makna Sumpah Pemuda di zaman now diungkapkan.

Peserta OLSN SMP cabang Lomba Story Telling Nur Fauziyah Sofiatunnisa Tjaja mengungkapkan bahwa dirinya memaknai Sumpah Pemuda dengan tidak mengecewakan para pejuang bangsa.

“Sumpah Pemuda pada awalnya membuat kita menyatu karena awalnya kita berpisah-pisah, sendiri-sendiri melawan penjajah. Dengan adanya Sumpah Pemuda perjuangan ini menjadi bersatu atas nama bangsa Indonesia. Persatuan dibutuhin banget. Tanpa persatuan, nggak ada negara Indonesia seperti sekarang,” kata siswi SMPN 75 Jakarta ini di Ambhara Hotel, Ahad (28/10/2018).

“Kita tahu Indonesia beda dari banyak sisi. Dari agama, suku, ras. Menghormati dan memahami biar kita bisa bersatu sebagai cerminan dari Sumpah Pemuda. Biar pahlawan dari zaman dulu tidak kecewa melihat kita yang ada di zaman sekarang. Misalnya negara ambruk, padahal mereka telah berjuang untuk negara ini,” tutur Nur Fauziyah Sofiatunnisa Tjaja yang membawakan cerita legenda Tanjung Menangis yang kisahnya bersetting di Halmahera.

Sementara itu juri OLSN cabang Lomba Cipta Cerpen Muhammad Adji memandang lapis historis akar dari bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia awalnya bahasa perdagangan. Sehingga walaupun dia berasal dari masyarakat melayu yang bukan mayoritas di nusantara. Ada Jawa yang lebih mayoritas. Tetapi bahasanya ini sudah lebih menyebar karena menjadi bahasa perdagangan di pesisir nusantara. Sehingga dia lebih berterima karena dikenal. Itu menjadi pegangan pemuda pada masa itu,” ujar Adji yang juga merupakan dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Padjajaran.

SHARE