SHARE
CARAPANDANG.COM - Gubuk itu sudah reot. Tiangnya bahkan tak lagi berdiri sejajar. Atap dari daun pun sudah tak utuh. Setengahnya sudah rontok akibat lapuk termakan usia.

Dinding dari anyaman bambu yang tak terpasang rapi lagi. Jarak antar papan merenggang, bercelah seukuran tiga jari. Sehingga, apapun yang dilakukan di dalam gubuk itu dengan mudah terlihat oleh siapapun yang berada di luar.

Di gubuk yang berada di tengah kebun itulah Teguh Sidik Mubarok menghabiskan hari-harinya bersama keluarganya di Kecamatan Tanjung Jaya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Tak ada listrik, begitu juga televisi. Penerangan satu-satunya ketika malam tiba hanyalah lampu minyak biasa. Namun Teguh tetap semangat menjalani hidup. Semangat menuntut ilmu untuk masa depan yang lebih baik.

Sang Ayah, Saep, selalu berpesan kepadanya agar tetap menjadi anak yang jujur dan pintar. Ia pun selalu menyemangati Teguh agar jangan terpengaruh oleh omongan-omongan orang lain.

“Saya sebagai orang tua, walaupun keadaan seperti ini, saya terus menyemangati anak jangan terpengaruh dengan cerita-cerita orang. Jangan putus asa, teruskan sekolah. Negara itu membutuhkan orang pintar dan orang baik,” ujarnya, Jumat (9/11/2018) saat ditemui di rumahnya di Kabupaten Tasikmalaya.

Ia pun bercerita tentang bagaimana Teguh sering menangis tentang keadaannya. Tetapi sebagai orang tua, ia menginginkan Teguh untuk berjuang dalam belajar.

“Anak ini sering menangis, saya dulu seperti ini, ingin sekolah tapi tidak mampu, saya menginginkan ia meneruskan perjuangan saya dalam belajar. Harapan saya, ia menjadi anak yang soleh dan baik. Mudah-mudahan anak ini menjadi penerus perjuangan bangsa,” tambahnya.

Sang Ayah pun bangga atas prestasi yang Teguh raih di sekolahnya. “Saya bangga sekali dengan apa yang sudah Teguh raih. Prestasi Teguh sekarang adalah apa yang saya cita-citakan dulu,” ucapnya.

Biarpun dengan keterbatasan ekonomi, Teguh mengaku tetap bersekolah untuk masa depannya. Dia termasuk siswa berprestasi menjadi langganan juara kelas dan peraih Kartu Indonesia Pintar.

“Saya ingin terus bersekolah. Ingin menjadi Polisi harus pintar. Ayah selalu mengingatkan untuk selalu menjadi manusia yang jujur dan pintar. Makanya saya ingin sekolah sampai ke jenjang yang tinggi,” ucap Teguh yang saat ini berada di kelas 4 SDN Pasirjaya ini.

Tak lupa juga ia berterima kasih kepada pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah menggalakkan Program Indonesia Pintar dan ia termasuk ke dalamnya sehingga memudahkannya mengenyam pendidikan tanpa harus memikirkan biaya lagi.

“Dari PIP ini, ayah dan ibu sangat terbantu sekali. Saya berterima kasih kepada Kemdikbud yang telah memberikan bantuan kepada saya. Dengan PIP ini juga saya bisa membeli kebutuhan-kebutuhan sekolah saya,” ucap anak pertama dari dua bersaudara ini.

Sementara itu, Kasi Kesiswaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, Ahmad Solihin, mengatakan apresiasinya terhadap apa yang telah Teguh gapai dalam pendidikan yang berupa prestasi sebagai juara kelas.

“Secara pribadi saya bangga dan terharu, ketika anak seperti Teguh dengan kondisi seperti itu mempunyai prestasi yang terus meningkat. Memang untuk saat ini, belum ada jalur khusus untuk anak berprestasi dan tidak mampu, tetapi harapan saya, Teguh terus termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi sehingga apa yang dia cita-citakan dapat terwujud serta dapat mengangkat derajat keluarganya,” tutupnya.

SHARE