SHARE
CARAPANDANG.COM - Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi menginginkan semakin banyak industri di Tanah Air yang beralih menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai sumber tenaga bagi operasi produksi mereka.

"Kami sangat mendorong EBT terutama geothermal, tenaga angin dan biogas untuk diproduksi secara masif, agar Indonesia ini bisa bersih," kata Kurtubi dalam rilis, Selasa (25/12/2018).

Menurut dia, saat ini juga sudah didorong adanya kemungkinan untuk menggunakan tenaga nuklir sebagai upaya menghilangkan ketergantungan antara lain terhadap penggunaan batubara.

Apalagi, lanjutnya, batubara diperkirakan dapat habis pasokannya dalam jangka waktu sekitar 40 tahun ke depan.

Politikus Partai Nasdem itu berpendapat kalangan industri dapat memikirkan untuk beralih ke energi baru terbarukan (EBT) terutama geothermal atau panas bumi.

Komisi VII DPR pada saat ini gencar mempromosikan geothermal sebagai energi alternatif, karena selain untuk menggantikan energi fosil, geothermal di Indonesia memiliki potensi paling besar di dunia untuk dikembangkan.

"Apabila ini berjalan baik maka keuntungan yang paling mendasar adalah polusi di Indonesia akan berkurang," ucapnya.

Namun, ia juga mengakui bahwa beban biaya yang relatif mahal masih menjadi tantangan untuk mengembangkan EBT secara maksimal.

Sebelumnya, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma menegaskan upaya pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang dilakukan pemerintah wajib didukung seluruh pihak mengingat Indonesia memiliki seluruh subsektor EBT, yakni air, bayu (angin), geotermal, surya, bioenergi dan laut.

"Kita (Indonesia) beruntung dianugerahi potensi EBT yang lengkap. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak mendukung pemerintah dalam mengembangkan EBT," ujar Surya Dharma.

Besarnya potensi EBT di Indonesia disadari betul oleh pemerintah, sehingga menetapkan target kontribusi EBT pada bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025.

Selain untuk mengurangi ketergantungan kepada energi fosil yang terus berkurang, pengembangan EBT ini dirancang untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Pakar di bidang panas bumi ini melanjutkan, meskipun seluruh penjuru Indonesia diberkahi potensi EBT yang beragam dan melimpah, konsep pengembangan menjadi tantangan tersendiri. Di situlah peran kemitraan lintas sektor dibutuhkan.

"Pemerintah, industri dan akademisi harus duduk bersama untuk mengembangkan konsep atau teknologi untuk mengoptimalkan pemanfaatan EBT," tambahnya.

Sementara itu Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Andriah Feby Misna menuturkan pemanfaatan EBT mayoritas dialokasikan pada kelistrikan, yang saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 54 persen.

SHARE