SHARE
CARAPANDANG.COM -  Pasca Reformasi 1998, Indonesia menghadapi tantangan serius dengan kemunculan berbagai kelompok Islam garis keras. Berbagai kelompok ini ada yang berwujud jaringan teroris, seperti Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), juga ada yang radikal secara pemikiran dengan menginginkan berdirinya Negara Islam dan menggantikan Pancasila sebagai ideologi negara, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).  

Pasca kekalahan ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) di negara asalnya yaitu Suriah, ISIS yang kemudian bertransformasi menjadi IS (Islamic State), mengubah strateginya dengan melakukan aksi-aksi teror di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia. 

Pegiat di Pusat Studi Islam dan Filsafat Subhan Setowara mengatakan, harus disadari bahwa kelompok Islam garis keras membutuhkan ruang hidup dan habitat. Sehingga, sekalipun tidak berakar dari negara ini, bisa saja ekstrimisme itu merupakan hasil ekspansi dari negara lain lantaran tidak mendapatkan ruang hidup di tempat asalnya. 

“Dalam konteks ini, bagi saya, jangan sekali-kali Islam garis keras mendapatkan habitatnya di negara ini, untuk kemudian tumbuh, berkembang dan menebarkan benih-benih kekerasan, yang jauh dari nilai-nilai perdamaian Islam,” ujar Subhan Setowara.

Dia melanjutkan, Islam Indonesia memiliki akar moderatisme yang kuat yang berdampak positif pada hadirnya citra Islam yang ramah, damai dan sejuk di negara ini. Kuatnya dua organisasi Islam berciri moderat, yaitu NU dan Muhammadiyah, adalah bukti bahwa Islam Indonesia jauh dari kesan ekstrimisme. 

Untuk itu, kemunculan kelompok Islam garis keras dan berbagai jaringan terorisme selama kurun waktu dua dekade ke belakang, patut menjadi perhatian bersama. 

Diskursus Islam Garis Keras di Indonesia ini akan dijelaskan secara lebih menyeluruh oleh Subhan Setowara, Syafiq Syeirozi dan Muhammad Badri Habibi dalam diskusi Ngopi (Ngobrol Pintar) bertajuk “Islam without Extremes” yang diadakan atas kolaborasi Locus Perdamaian dan Carapandang.com, di Café Oksigen, Jalan Jetak Ngasri, Dau, Malang, pada Kamis (17/1), pukul 14.00-16.30.

Penting untuk diketahui, bahwa “Islam without Extremes” adalah judul buku seorang penulis kritis asal Turki, Mustafa Akyol. Buku ini sarat dengan nilai-nilai perdamaian. Seperti dijelaskan dalam buku tersebut, Islam juga menawarkan dasar intelektual (pemikiran kritis) yang sangat dibutuhkan untuk rekonsiliasi, kebebasan berpolitik, ekonomi, sosial dan beragama. “Nah, melalui ‘Islam without Extremes’ ini, kita ingin membaca pola perilaku keberagamaan dan corak pemikiran organisasi-organisasi radikal keagamaan di Indonesia,” jelas Nafik, pegiat di Locus Perdamaian. (Afqa, Kontributor Malang)

SHARE