SHARE
CARAPANDANG.COM - Para guru di Zimbabwe menunda aksi mogok nasional untuk menuntut kenaikan gaji, kata serikat pada Minggu, namun memperingatkan bahwa mereka dapat membolos dari pekerjaan jika pemerintah tidak memenuhi tuntutan mereka.

Para guru melancarkan aksi mogok kerja pada 5 Februari usai perundingan antara pemerintah dan pekerja sektor umum tidak membuahkan hasil, menambah ketegangan politik setelah aksi protes bulan lalu yang berujung pada tindakan keras oleh pasukan keamanan.

Serikat guru menggelar pertemuan dengan Menteri Pendidikan Paul Mavima di Harare dan sepakat untuk kembali berkerja pada Senin.

Dua serikat terbesar, Asosiasi Guru Zimbabwe dan Serikat Guru Progresif, usai pertemuan tersebut mengatakan bahwa pemerintah seharusnya memanfaatkan "kelonggaran untuk melakukan introspeksi dan datang dengan solusi-solusi yang dipikirkan secara matang, signifikan, dan untuk jangka panjang terkait keluhan gaji.

" Kegagalan pemerintah untuk memenuhi tuntutan mereka akan membuat para guru kembali melakukan aksi mogok, kata serikat, tanpa memberikan waktunya.
Menteri Mavima tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar.

Para guru, seperti pekerja sektor lainnya, menuntut gaji dolar AS dan kenaikan tunjangan untuk melindungi mereka dari tingginya inflasi dan kesulitan ekonomi.

Terdapat lebih dari 100.000 guru sektor publik di Zimbabwe dan serikat katakan, 80 persen dari mereka melakukan aksi mogok.

Serikat menuduh agen keamanan negara melakukan intimidasi dan pelecehan terhadap anggota mereka dengan mengunjungi sekolah-sekolah dan mencatat nama-nama guru yang melakukan aksi mogok.

Pemerintah Zimbabwe menghabiskan lebih dari 90 persen anggaran nasional untuk pembayaran gaji dan berjanji akan menguranginya menjadi sekitar 70 persen pada tahun ini.

Tuntutan dari para pekerja dapat memperlihatkan pihak berwenang gagal memenuhi target mereka.

SHARE