SHARE
CARAPANDANG.COM - Penjualan berbagai juadah oleh-oleh khas Kota Batam Kepulauan Riau berkurang hingga 70 persen, akibat kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan maskapai penerbangan.

Pelaku usaha oleh-oleh kue Nayadam, Sarif di Batam, Senin (11/2/2019), mengatakan biasanya omset penjualan mencapai Rp7 juta dalam sehari, namun setelah kebijakan bagasi berbayar diterapkan, penjualan hanya bekisar Rp1,7 juta hingga Rp2 juta dalam seharinya.

"Karena bagasi berbayar, mereka menjadi berfikir ulang untuk membawa oleh-oleh banyak," kata Syarif disela-sela unjuk rasa Pawai Keprihatinan Insan Pariwisata.

Bila biasanya pelancong membawa juadah khas Batam berkardus-kardus, maka kini dibatasi, menjadi yang cukup masuk dalam tas tenteng.

Tidak hanya itu, jumlah pelancong yang datang ke Batam juga berkurang, sehingga usaha oleh-oleh semakin terpuruk.

Meski begitu, ia mengatakan, sampai saat ini belum ada gerai oleh-oleh di Bandara Hang Nadim tutup, karena masih terikat kontrak sewa dengan pengelola bandar udara.

Koordinator aksi unjuk rasa Pawai Keprihatinan Insan Pariwisata, Irwandi, mengatakan kebijakan bagasi berbayar sudah menurunkan omset penjualan oleh-oleh hingga 65 persen secara keseluruhan.

Selama ini Batam dikenal sebagai destinasi wisata belanja. Karenanya, setiap orang yang kembali dari berlibur selalu membawa banyak oleh-oleh. Namun, kebijakan bagasi berbayar membatasi pelancong, sehingga wisata ke Batam tidak lagi diminati.

Menurut dia, tingginya harga tiket pesawar dan kebijakan bagasi berbayar, maka pariwisata di Batam menjadi lumpuh.

Lumpuhnya pariwisata di Batam, berimbas pada semakin lumpuhnya ekonomi di kota itu, karena perekonomian Batam kini bertumpu pada sektor pariwisata.

"Sekarang di airport tidak ada orang berpergian, jadwal penerbangab sekarang juga disatukan," kata Irwandi dalam orasinya.

SHARE