SHARE
CARAPANDANG.COM - Pemerhati pendidikan Indra Charismiadji mengatakan siswa Indonesia baru sekedar bisa membaca namun masih kesulitan dalam memahami apa arti dari bacaan yang dibacanya tersebut.

"Hasil dari penilaian yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yakni "Indonesian National Assesment Programme", hanya 6,06 persen siswa di Tanah Air yang memiliki kemampuan membaca yang baik. Sisanya yakni 47,11 persen cukup dan 46,83 persen lagi memiliki kemampuan membaca yang kurang," ujar Indra di Jakarta, Selasa.

Kemampuan baca yang baik tersebut didapat dari hasil latihan dalam jangka waktu yang lama. Misalnya saat TK, tidak diajarkan membaca, menulis dan berhitung (calistung), melainkan lebih banyak mendengarkan cerita. Kemudian saat SD mulai membaca secara bertahap.

Menurut dia, minat baca siswa masih rendah terbukti dari sulitnya siswa memahami bacaan. Siswa kesulitan dalam memahami soal-soal cerita. Oleh karena itu, dia meminta agar informasi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

"Berdasarkan data dari Central Connecticut State University, kemampuan literasi siswa kita peringkat 60 dari 61 negara, sedangkan untuk proyek literasi peringkat 15 dari 61 negara," tambah dia.

Meski banyak terdapat sarana prasarana yang disediakan untuk siswa dan masyarakat, bukan serta-merta minat baca menjadi meningkat. Begitu juga kompetensi dibidang literasi yang juga masih kurang.

Pegiat pendidikan lainnya, Ahmad Rizali, meminta agar sekolah menanamkan kebiasaan membaca pada siswa. Program Kemendikbud yakni 15 menit membaca sebelum belajar, juga dinilai efektif dalam meningkatkan minat baca.

"Pemerintah sebaiknya fokus pada peningkatan minat baca untuk siswa SD, karena merupakan landasan bagi pendidikan selanjutnya. Perlu dipikirkan apa program lainnya untuk meningkatkan minat baca siswa ini," harap Ahmad Rizali.

SHARE