SHARE
CARAPANDANG.COM - Hadirnya program rumah subsidi tentu sangat menggembirakan bagi kalangan masyarakat yang selama ini kesulitan untuk memiliki hunian. Pemerintah sebetulnya telah melahirkan program ini melalui KPR skema fasiltas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) pada 2010 lalu. Namun sempat berhenti untuk menyesuaikan aturan yang lebih baru.

Nasib pengembang hunian subsidi yang memanfaatkan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan ( FLPP) terancam gulung tikar. Hal ini sudah terjadi dan dialami sejumlah pengembang di Subang, Jawa Barat. Menipisnya kuota FLPP tahun anggaran 2018-2019 dianggap sebagai penyebab nasib para pengembang rumah subsidi tersebut di ujung tanduk.

Ketua Komtap Kadin Properti Setyo Maharso mengatakan, pembangunan FLPP merupakan salah satu ujung tombak pemerintah dalam memenuhi target Program Sejuta Rumah (PSR).

Namun, pemerintah kurang memberikan perhatian lebih terhadap pelaku usaha sektor perumahan subsidi. "Intinya, dengan habisnya kuota FLPP ini menyebabkan ketidakpastian industri properti.

Terutama para pengembang properti baik REI, Himpera, Pengembang Indonesia, yang 70 persen anggotanya merupakan pengembang rumah FLPP," kata Setyo di Kantor Kadin, Jakarta

Sebagai informasi, dana FLPP disalurkan melalui 39 bank pelaksana penyalur yang mencakup  bank umum nasional dan 39 bank pembangunan daerah. Namun dari jumlah tersebut hanya 18 bank pelaksana yang mampu menyalurkan KPR FLPP lebih dari 50 persen dari kuota yang diberikan berdasarkan Perjanjian Kerjasama Operasi (PKO).

Hingga kuartal II-2019, baru 67 persen KPR FLPP yang telah tersalurkan ke masyarakat dari total target 68.858 unit. Itu artinya, masih ada 22.084 unit yang hingga kini belum tersalurkan.

Pada saat yang sama, Kementerian PUPR telah mengevaluasi pelaksanaan penyaluran KPR FLPP. Bank pelaksana yang kinerjanya di bawah 25 persen, kuotanya dialokasikan ke Bank BTN atau bank lain yang kinerjanya positif.

Dari peralihan alokasi ini, terdapat sekitar 5.000 unit rumah FLPP yang berganti bank penyalur. "Tetapi itu jumlahnya juga hampir habis. Prediksi kami akhir Agustus ini sudah habis yang 5.000 itu," kata Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata.

SHARE