SHARE
SEMANGAT45.CO – Pendidikan adalah hak dari setiap anak di negeri ini. Keterbatasan ekonomi pun selayaknya tak menjadi aral untuk menempuh pendidikan dan berprestasi. Terlebih pemerintah kini semakin menggiatkan pendidikan bagi semua anak melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Bagus Putu Satria Suarima Putra dan Made Radikia Prasanta merupakan siswa penerima Kartu Indonesia Pintar. Kedua orang tua Satria mencari nafkah dengan berjualan kerupuk. Sedangkan orang tua Radikia bekerja dengan penghasilan yang tak menentu.

Satria dan Radikia merupakan siswa penerima KIP yang layak menjadi teladan. Di tengah keterbatasan ekonomi orang tua mereka, keduanya mampu berprestasi dengan mewakili Indonesia dalam ajang Olimpiade Penelitian Internasional di Amerika Serikat pada tanggal 14-19 Mei 2017.

Satria dan Radikia pada tahun 2016 merupakan pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) dengan menciptakan psychrometer, yaitu alat untuk memprediksi cuaca. Proposal penelitian siswa kelas XI di SMA Negeri Bali Mandara, Bali ini lalu dikembangkan dan lolos menjadi salah satu makalah terbaik sebagai finalis Intel-International Science Engineering Fair (ISEF) tahun 2017.

Ada pun inspirasi untuk membuat psychrometer yakni permasalahan di lingkungan terdekat, serta berusaha memberikan solusi tepat guna. Menurut Satria kondisi cuaca di daerahnya di Kabupaten Buleleng sulit diprediksi. Hal tersebut memberikan dampak negatif bagi masyarakat yang mata pencahariannya bergantung kepada kondisi cuaca.

“Banyak petani yang kerugian panen, karena mengalami kekeringan. Lalu masyarakat yang bekerja di bidang industri tradisional seperti membuat kerupuk juga susah memprediksi cuaca untuk memproduksi bahan-bahan dasar membuat kerupuk,” ungkap Satria seperti dilansir situs Kemdikbud.

Ada pun proses pengembangan yang telah berhasil dilakukan yakni kini psychrometer dapat memantau dengan lebih akurat dan dipantau dari jarak jauh dengan menggunakan ponsel pintar atau komputer. Psychrometer tersebut menggunakan sensor khusus untuk mengukur tekanan udara, suhu udara dan kelembaban udara dari lingkungan sekitar.

“Semua data itu kemudian diproses dengan prosesor yang ada di psychrometer buatan kami lalu diproses jadi data informasi cuaca, menggunakan rumus-rumus dari kajian ilmu kebumian dan geografi. Sedangkan pembuatan alat psychrometernya menggunakan ilmu elektronika,” kata Radikia usai pertemuannya dengan Mendikbud Muhadjir Effendy di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (12/5).

SHARE