SHARE
SEMANGAT45.CO - Pernah menyadari gak kamu semua, entah sudah berapa lama kamu hidup hanya dengan sebuah tema, memburu kemenangan dan mencampakkan kekalahan.

Banyak dari kamu yang akhirnya terpuruk karena sebuah kekalahan, karena kekalahan dinilai serba negative, jelek dan hina.

Sekolah yang notabene sebagai tempat untuk menyiapkan masa depan juga ikut-ikutan. Dengan program yang serba juaranya, akhirnya kamu semua meyakini bahwa kalah itu musibah.

Gak ada kok yang melarang kamu sebagai manusia mengejar kemenangan. Kemenangan itu adalah sebagai pembangkit energi yang membuat kehidupan kamu berputar, pemberi semangat agar kamu gak kelelahan. Tapi, mau seberapa besar energi dan semangat kamu, kalo putaran hidup kamu itu waktunya kalah, gak ada yang bisa menolak.

Oleh karena itu, kamu yang bijaksana pasti melatih diri kamu untuk tersenyum di depan kemenangan maupun kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa harus tetap dilakukan. Namun, kalau pada akhirnya kamu kalah, hanya senyumanlah yang memuliakan perjalanan kamu.

Gak bisa dipungkiri, menang itu indah. Tapi kalau kamu akhirnya bisa tersenyum di depan kekalahan, kamu termasuk ke dalam orang yang mendalam pandangannya. Malah nih ya, sebagian kamu yang bijaksana lebih memuliakan perjalanannya dibanding kemenangan. Di depan kekalahan, kamu itu sedang dilatih, dicoba, dihaluskan.

Kesabaran, kerendahan hati, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Bagi kamu yang sudah terbuka pintunya oleh kekalahan, pasti akan berucap, “kalah juga indah kok”.

Titik awal untuk memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan dalam mengerti, the blueprint is found within our mind. Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pengertian kamu akan kekalahan akan memperpanjang penderitaan yang sudah panjang.

Ya, tapi itulah batin manusia. Ketika batinnya sempit dan rumit, kehidupan pun menjadi mudah marah, tersinggung dan sakit hati. Begitu juga sebaliknya, kalau hatinya luas, gak ada satu hal yang bisa membuat kehidupan kamu menjadi negatif.

Apa yang biasa kamu sebut menang-kalah, sukses-gagal, dan hidup-mati hanyalah wajah dari perputaran waktu. Persis saat jam menunjukkan pukul 06.00 saat matahari terbit. Pukul 18.00, putaran matahari terbenam. Memaksa agar pukul 06.00 matahari tenggelam, gak cuma akan ditertawakan, tetapi kamu akhirnya jadi korban karena kekecewaan.

Seperti halnya kaya dan miskin. Kaya adalah berkah, tapi sedikit ruang latihan di sana. Meski ditakuti banyak orang, kemiskinan menghadirkan daya paksa tinggi untuk senantiasa rendah hati. Lalu bagaimana dengan menang? Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakan besar sekali. Nyaris semua dari kamu gak ingin kalah, tetapi kekalahan adalah ibu kesabaran.

SHARE