SHARE

Webinar peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan se-Dunia 2020 yang diselenggarakan KLHK di Jakarta, Jumat (26/6/2020). (istimewa)

CARAPANDANG.COM – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan saat ini pemerintah tengah fokus mengubah sikap dan prilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan, terutama mencegah penurunan dan degradasi lahan di Tanah Air.

"Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan se-Dunia tahun 2020 ini difokuskan pada upaya-upaya mengubah sikap publik tersebut," kata Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong saat diskusi virtual di Jakarta, Jumat (26/6/2020).

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hampir 75 persen dari semua lahan di dunia telah ditransformasikan menjadi lahan permukiman perkotaan, infrastruktur serta diperparah dengan fenomena perubahan iklim.

Menurut dia ketika populasi semakin meningkat dan wilayah di perkotaan makin berkembang maka tekanan terhadap lahan juga kian besar. Hal tersebut berdampak pada penyediaan bahan makanan, pakan ternak dan bahan serat yang digunakan sebagai bahan sandang manusia.

Untuk memiliki lahan produktif yang bisa mencukupi kebutuhan hingga 10 miliar jiwa penduduk pada 2050, katanya, maka gaya hidup masyarakat perlu diubah mulai dari sekarang.

Oleh sebab itu, katanya, peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan se-Dunia 2020 perlu ada edukasi ke masyarakat terutama terkait mengubah cara produksi dan konsumsi yang berlebihan menuju pola yang lebih ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Ia mengatakan ketersediaan pangan, pakan dan serat juga bersaing dengan perkembangan kuota dan industri bahan bakar. Akibatnya, tanah yang dikonversi dan terdegradasi dengan laju yang sangat tinggi mengakibatkan terganggunya ekosistem.

"Ini juga mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati," katanya.

Sementara, kata dia, Indonesia memiliki karakteristik unik di mana wilayah daratannya terbagi dalam ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) yang cukup banyak dan mencapai 17 ribu yang tersebar di berbagai wilayah.

Namun, katanya, kebutuhan lahan untuk pangan, serat dan pakan tidak terkendali dengan baik terutama di hulu DAS yang berujung pada penurunan fungsi kawasan sehingga mengancam kelestarian hutan.

Lebih buruk lagi, kata dia, apabila kondisi tersebut terus berlanjut atau rusaknya hulu DAS maka dapat meningkatkan frekusensi bencana hidrometeorologi.

Oleh karena itu, pemerintah terus fokus mengubah perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan terutama degradasi lahan, demikian Alue Dohong.