SHARE

carapandang.com

CARAPANDANG.COM - Siapa yang tak kenal sang “Raja Jawa tanpa Mahkota ini”, siasat politiknya menjadi awal bagi bangkitnya dunia pergerakan Nusantara. Karena pandangan politiknya juga, Singa Podium ini begitu disegani teman dan ditakuti lawan. Pidatonya meledak-ledak, suaranya keras, menggema meski tanpa pengeras suara. Konon, suara keras Soekarno saat berorasi hanya sepertiga dari suara pria ini (Takashi Shiraisi, 1997).

Haji Oemar Said Tjokroaminoto, namanya banyak dikenal oleh para pemikir keindonesiaan. Hampir setiap tesis yang membincang soal nasionalisme, Islam, dan keindonesiaan, kiprah pria berkumis tebal ini tak akan luput dari perbincangan. Ia adalah orang yang pertama kali memperkenalkan paradigma nasionalisme di bumi pertiwi. Ia berani menolak nama Hindia-Belanda yang diberikan Kolonial Belanda kepada Nusantara. Ia lebih suka jika bumi kelahirannya itu dinamai dengan Hindia-Timur atau Hindia.

Tjokroaminoto adalah elit bangsa yang membenihkan gagasan nasionalisme, keislaman serta relevansi antar keduanya. Ia adalah guru bangsa yang namanya tak akan mudah usang oleh zaman serta lapuk karena panas dan hujan. Itu karena upaya kuatnya membangkitkan kesadaran masyarakat dari keterkungkungan primordialisme menuju kesadaran berbangsa dan berkesatuan.

Terlahir pada Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur. Ia tumbuh dalam keluarga ningrat dengan 12 bersaudara. Ayahnya, R.M. Tjokroamiseno adalah seorang pejabat pemerintahan di daerahnya. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro juga pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo. Meski begitu, ia tak mau bermewah-mewah, setelah lulus dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) tahun 1902, Tjokroaminoto lantas bekerja menjadi juru tulis di Kesatuan Pegawai Administratif Bumiputera di Ngawi.

Pada 1905, masa pencarian jati dirinya kian tumbuh. Ia berpindah ke Surabaya, selain untuk bekerja di sebuah perusahaan dagang, ia juga ingin mengikuti kursus teknisi di sebuah sekolah malam. Maka setelah lulus pria ini langsung mendapatkan pekerjaan di pabrik gula Rogojampi pada 1907.

Bekerja di pabrik tak memberikan dirinya kepuasan batin. Ia ingin turut dalam pergolakan kemerdekaan seperti teman-teman sebayanya. Awalnya, ia sehari-hari aktif menulis dan menjadi asisten di Bintang Soerabaia. Kemudian pada tahun 1912, Tjokroaminoto bersama Samanhoedi di Surakarta mendirikan Sarikat Islam (SI). Maka ditunjuklah Tjokroaminoto sebagai wakil ketua dan Samanhoedi sebagai ketuanya. Tugas pertama pun dimulai, ia membuat kelengkapan persiapan peraturan dan manajemen organisasi. Tjokroaminoto juga sekaligus menjadi Ketua SI Cabang Surabaya.

George Mc.T. Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia menyebutnya sebagai awal pergerakan nasionalisme dimulai. SI yang berubah bentuk dari Serikat Dagang Islam (SDI) menjadi satu-satunya perwujudan politik Islam pertama yang berkembang pesat. Di tangan Tiga Serangkai; Tjokroaminoto, Agus Salim, dan Abdoel Moeis, SI menjadi organisasi pionir yang mengembangkan program politik yang menyerukan pemerintahan sendiri dan kemerdekaan penuh.

Ketika Tjokroaminoto memegang kendali penyelenggaraan kongres (vergadering) pertama kali SI pada 13 Januari 1813 di Surabaya, ia berhasil mendatangkan 15 cabang, yang 13 di antaranya mewakili 80.000 anggota. Kesuksesan mengadakan rapat besar ini merupakan awal prestasinya yang kemudian memberikan pengaruh besar setelahnya. Berbagai pikiran cerdasnya mulai lebih dikenal di cabang-cabang SI lainnya.

Melihat perkembangan SI yang begitu cepat dan menusantara, Tjokroaminoto merasa khawatir jika nantinya pergerakan massa ini akan dibekukan Belanda lantaran sudah menjadi organisasi pergerakan yang bersifat nasional. Maka dalam pertemuan di Yogyakarta pada 18 Februari 1914, dibentuklah Central Sarekat Islam (CSI) yang bertujuan sebagai “induk” dari SI-SI lokal. Dalam pertemuan itu, Tjokroaminoto ditunjuk sebagai Ketua dan Samanhoedi sebagai Ketua Kehormatan.

Pada posisi itulah, Tjokroaminoto tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menguji strategi politiknya guna membumikan pikiran-pikiran cerdasnya melawan pemerintahan kolonial. Ia mulai melebarkan pergerakan SI ke sejumlah daerah dan mendeklarasikan pembentukan cabang-cabang baru lainnya. Tak mengherankan jika dalam waktu 4 tahun saja, menurut  George Mc.T. Kahin, SI berhasil merekrut sebanyak 360.000 anggota.

Rumah milik Tjokroaminoto di jalan Peneleh VII nomor 29 dan 31 pun digunakannya sebagai pondokan bagi aktivis-aktivis perjuangan kemerdekaan. Dari dapur revolusinya itulah kelak terlahir para pemimpin hebat yang turut mewarnai perjalanan kemerdekaan bangsa. Dari loteng di kamar-kamar huniannya itu terlahir sosok Soekarno yang nasionalis, Musso dan Alimin yang komunis, dan Kartosoewirjo yang islamis. Ia adalah guru politik dan pergerakan bagi tokoh-tokoh revolusi Indonesia.  

Dalam perjalanannya, murid-murid Tjokroaminoto saling berebut dan berusaha untuk memaksakan ideologi perjuangan dengan jalan kemerdekaan masing-masing. Bahkan, SI yang dipimpin oleh sang guru politik inipun harus terpecah karena perdebatan landasan teologis-ideologis yang tak terelakkan oleh kelompok marxis yang masuk melalui muridnya, Semaun. Semaun dan Darsono merupakan katalisator ide marxis yang tidak menghendaki persoalan agama dibawa-bawa masuk ke urusan politik praktis.

Sebaliknya, Tjokroaminoto dengan tegas menyatakan bahwa Islam adalah ideologi SI. Pengamat Politik Islam Indonesia, Bahtiar Effendy dalam bukunya Islam dan Negara; Transformasi Gagasan Praktek Politik Islam di Indonesia menuliskan, ketiga serangkai itu lebih menghendaki supaya SI bergerak sejalan dengan Pan-Islamisme di Timur Tengah saat itu.    

Pandangan-pandangan Tjokroaminoto berusaha untuk menjadikan islam sebagai pilar pemersatu bangsa. Dengan berlandaskan Islam, perjuangan kemerdekaan bumi putra harus diraih dengan sah dan mutlak. Pada tahun 1924, Tjokroaminoto pernah menulis Islam dan Sosialisten yang menegaskan bahwa dia akan melawan siapapun yang mengagungkan komunisme. Dengan tulisannya, ia mengingatkan masyarakat muslim, “Wie goed Mohammedaan is, is van zelf socialist, en wij zijn Mohammedanen, dus zijn wij socialisten.” Kata-kata Belanda itu artinya, “Seorang muslim sejati dengan sendirinya menjadi sosialis, dan kita kaum muslimin, jadi kita kaum sosialisten.”

Konflik di tubuh SI semakin tak terelakkan. Kekalahan fraksi marxis di kongres Surabaya berakibat pada pengunduran diri kubu ini dari keanggotaan SI. Selanjutnya, Abdoel Moeis juga keluar karena tidak setuju atas usulan Tjokroaminoto dalam menangani hubungan dengan Persatuan Pegawai Pegadaian Bumiputera (PPPB). Parahnya, pengunduran diri berlanjut dengan keluarnya Sukiman dan Surjopranoto karena perbedaan pandangan masalah moral. Aturan pendisiplinan dalam SI juga mengakibatkan banyak anggota Muhammadiyah mundur dari keanggotaan.

Tjokroaminoto wafat pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta. Kondisi ini memperburuk konflik internal terkait kebijakan hijrah (menjauhkan diri dari pemerintahan kolonial tahun 1922) yang kembali menguat sehingga memberi peluang bagi Belanda untuk menekan terus-menerus gerakan SI.

Tjokroaminoto juga dikenal sebagai pemimpin yang pandai menularkan gagasan-gagasannya lewat media. Tercatat, ia bersama beberapa tokoh SI lainnya terlihat aktif dalam beberapa pendirian media massa seperti Bintang Soerabaia, Oetoesan Hindia, dan Fadjar Asia. Menurut dia, menulis di media adalah alat yang efektif untuk menggerakkan massa.

Nafik Muthohirin Penikmat Kopi, tinggal di Malang

SHARE