Menteri Norwegia Kehilangan Jabatan Gara-Gara Liburan Bersama Mantan Ratu Kecantikan,

SHARE

istimewa


CARAPANDANG.COM- Gara-gara berlibur dengan mantan ratu kecantikan, Menteri Perikanan Norwegia kehilangan jabatannya. Ia harus mengundurkan diri karena dianggap telah melanggar protokol keamanan saat liburan bulan lalu dengan sang pacar yang kelahiran Iran.

Seperti dikutip dari BBC, Selasa (14/8/2018), Per Sandberg mengaku telah pergi dengan Bahareh Letnes tanpa memberi tahu Perdana Menteri Norwegia. Ia dianggap melanggar aturan negara dengan membawa serta ponsel pemerintah fasilitas jabatannya ke Iran.

Perjalanan liburan itu dianggap mempertaruhkan Sandberg kepada mata-mata Iran, karena dia seharusnya tidak membawa ponsel kantor dengannya.

Bahareh Letnes adalah mantan ratu kecantikan yang sekarang mengelola bisnis ekspor ikan. Dia memiliki residensi Norwegia dan membantah memiliki hubungan dengan pemerintah Iran.

Kendati demikian Intelejen Norwegia dilaporkan tengah menyelidiki aktivitasnya saat ini.

Mengetahui perilaku anak buahnya, Perdana Menteri Erna Solberg mengatakan dia telah memerintahkan Per Sandberg untuk menyerahkan ponsel fasilitas yang diberikan untuknya kepada polisi guna pemeriksaan keamanan.

Per kemudian juga mengundurkan diri sebagai wakil ketua Progress Party.

"Per diminta untuk mundur, dan saya pikir itu adalah keputusan yang tepat," kata Solberg, seorang Konservatif, kepada wartawan.

"Dia tidak menunjukkan akal sehat yang diperlukan terkait masalah keamanan," kata kantor berita AFP mengutip Per Sandberg.

Seafood atau makanan laut adalah industri ekspor terbesar kedua di Norwegia setelah minyak dan gas.

Kehilangan jabatan karena cinta juga pernah dialami Raja Inggris. Berikut ini kisahnya.

Sepucuk surat ditulis Edward VIII pada 10 Desember 1936. Kurang dari setahun dimahkotai sebagai Raja Inggris, ia memutuskan untuk turun takhta. Demi cintanya pada seorang wanita.

"Saya, Edward VIII, Raja Inggris...dengan ini menyatakan keputusan saya yang tak bisa dibatalkan, untuk meninggalkan takhta untuk diri saya sendiri dan juga untuk anak keturunan saya," tulis dia dalam surat tersebut, seperti dikutip dari Vancouver Sun.

Edward VIII menandatangani surat penyerahan takhtanya, Kamis pagi 10 Desember 1936, di depan saudara-saudaranya dan para pengacara. Kekuasaannya berakhir di hari ke-325. Bahkan dia belum sempat dinobatkan secara resmi sebagai raja.

Ia bertemu dengan Wallis Simpson pada Januari 1931, awalnya sama sekali tak tetarik, namun setelah beberapa pertemuan, benih-benih cinta tumbuh di hati sang pangeran. Perempuan asal Amerika Serikat itu tidak direstui menjadi pendamping Edward VIII karena sudah berstatus sebagai janda.

Kala itu, Kepala Gereja Inggris tak mengizinkan orang yang bercerai menikah lagi saat pasangannya masih hidup. Uskup Bradford pun mengeluarkan pernyataan menetang.

Namun sang raja tak menyerah, ia sempat mengajukan peraturan "perkawinan morganatic" namun Perdana Menteri menolaknya. Hingga akhirnya Edward VIII memutuskan mundur, sebuah momentum yang dianggap kemenangan konstitusi Inggris.