SHARE

Istimewa (Net)

Stop hidup dalam lautan ilusi. Hiduplah dengan kebenaran. Dengan berpegang kepada nilai kebenaran kita akan menjadi satu.

CARAPANDANG.COM - Kalau kita jujur kepada hati nurani,  sebenarnya kita hidup dalam lautan ilusi. Dan kita pun berenang dan terus berang dalam lautan ilusi tersebut. Sehingga yang kita dapatkan hanya rasa lelah tanpa mendapatkan kebenaran yang hakiki.

Mengapa penulis mengatakan demikian?  Sebab, kita hidup masih berdasarkan berita-berita atau informasi  yang belum tentu kebenarannya. Bahkan kita dengan mudah dan cepat percaya dengan isi berita tersebut. Bahkan kita pun turut berkontribusi menyebarkan berita atau informasi itu. Sehingga, apa yang terjadi saat ini, masyarakat sangat mudah terbelah. Dan masing-masing merasa paling benar dengan apa yang mereka yakini. Padahal yang mereka yakini bisa jadi ilusi yang jauh dari kebenaran. Sehingga mereka terus hidup dalam lautan ilusi, dan jika gelombang besar datang mereka bisa saja tergulung dan tenggelam di dalamnya.

Hal ini sebenarnya kita sudah sama-sama merasakan. Contoh, pada saat Pilpres tahun 2019 lalu  masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua kutub. Kutub yang berpihak terhadap 01 dan berpihak terhadap 02. Jika ini terbelah hanya sakadar pilihan politik, ini sangat wajar; bahkan ini sangat bagus untuk kehidupan demokrasi di Indonesia.

Namun, yang terjadi ini lebih dalam, terbelahnya  masyarakat Indonesia tidak hanya soal pilihan politik saja, akan tetapi ini dirasakan hingga sampai ke persoalan agama. Bagi sebagian besar pendukung 02  menilai, kelompok yang mendukung 01 mereka anggap mendukung gerakan-gerakan yang akan merusak agama Islam di Indonesia- sebut saja mereka menganggap pendukung 01 ini memberikan karpet merah terhadap hidupnya ajaran komunis di Indonesia, sampai mereka mengkaitkan dengan ajaran Islam Nusantara yang dianggap akan "merusak" ajaran Islam yang sesungguhnya.

Tuduhan yang sama juga diberikan kepada pendukung 02. Mereka menilai barisan pendukung 02 adalah kelompok radikal, tidak sejalan dengan Pancasila, dan kelompok yang akan menghidupkan sistem khilafah di Indonesia. Dan mereka kadang mengecap kelompok ini antikeberagaman dan intoleran.

Inilah yang terjadi saat ini. Bahkan setelah Pilpres selesai dan Joko Widodo telah ditetapkan sebagai Presiden, masyarakat Indonesia masih terbelah. Dan yang lebih mencengangkan lagi, perpecahan tidak lagi pada masalah yang terjadi di lingkup nasional, tapi dalam lingkup internasional, yakni terkait etnis Muslim Uighur di Xinjiang, China.

Soal Uighur pun kita terbelah

Menyikapi permasalahan apa yang terjadi dan dialami oleh etnis Muslim Uighur di Xinjiang,China,  masyarakat Indonesia pun terbelah. Bahkan jika mencermati di media sosial yang menarik ini masih pada basis massa pendukung 01 dan 02. Tapi, ini tidak  boleh dijadikan pembenaran- seluruh pendukung 01 dan 02 memiliki pandangan yang sama. Tapi bagi penulis ini hanya cerminkan saja bahwa masyarakat kita masih benar-benar terbelah.

Bagi “Pendukung 01” menganggap apa yang dilakukan pemerintah saat ini dengan tidak memberikan sikap yang tegas kepada China merupakan langkah yang tepat. Pasalnya pemerintah Indonesia tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga negara lain. Toh, apa yang dilakukan pemerintah China merupakan bagian dari upaya deradikalisi. Dan mereka percaya dengan penjelasan yang disampaikan pemerintah China, bahwa apa yang terjadi di sana bukan masalah agama, tapi ini soal separitisme dan bagian dari upaya memerangi aksi radikalisme dan terorisme. Dan, mereka menganggap tidak ada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap etnis Muslim Uighur.

Bahkan mereka juga beranggapan masyarakat Indonesia yang membela etnis Muslim Uighur sudah termakan propaganda politik Amerika Serikat. Sebab, saat ini AS merupakan rival China. Sehingga AS berupaya ingin menghancurkan kekuatan China dalam perdagangan dan ekonomi dengan memanfaatkan permasalahan Uighur untuk mencari simpati dan dukungan dari masyarakat dunia, khususnya umat Islam. Dan Indonesia merupakan negara yang mayoritasnya beragama Islam.

Sebaliknya, bagi “Pendukung 02”  mengangkap sikap lembek pemerintah Indonesia terhadap masalah pelanggaran HAM  kepada etnis Muslim Uighur bukti pemerintah saat ini lebih pro terhadap komunis dan tidak memihak dan membela umat Islam yang saat ini benar-benar terdzalimi oleh pemerintah China. Dan mereka pun menganggap sikap pemerintah saat ini yang lunak karena rezim Jokowi memiliki beban utang budi terhadap China. Seperti kita ketahui bersama, selama rezim ini berkuasa sebagain besar utang bergantung terhadap negeri tirai bambu ini.

Sehingga sikap yang lunak pemerintah Indonesia terhadap Uighur  ini menjadi kohesi untuk mereka menyuarakan bahwa rezim Jokowi benar jauh dan tidak peduli terhadap Islam. Dan mereka semakin yakin rezim ini lebih pro terhadap komunis.

Hidup dalam lautan ilusi

Mencermati apa yang terjadi saat ini,  dalam menyikapi permasalahan etnis Muslim Uighur masyarakat Indonesia bisa jadi menurut hemat penulis  mereka sedang berenang dalam lautan ilusi. Yakni ilusi yang diciptakan oleh dua kekuatan negara besar, China dan Amerika Serikat.

Sebab, kedua negara ini sedang mencari pengaruh dan dukungan untuk menguasi ekonomi dunia. Lantas apakah masyarakat Indonesia akan tenggelam dalam lautan ilusi yang sedang mereka buat.  Semoga ini tidak terjadi.

Maka itu, dalam menyikapi persoalan etnis Muslim Uighur kita harus mencermati dan mengamati secara sesakma apa yang terjadi. Sehingga kita benar-benar mendapatkan kebenaran bukan ilusi. Kebenaran apakah disana benar-benar terjadi pelanggaran HAM yang serius atau tidak.

Langkah bijak yang disuarakan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam menyikapi persoalan etnis Muslim Uighur ini seharusnya dijalankan oleh pemerintah China. PP Muhammadiyah meminta agar pemerintah China membuka akses kepada masyarakat dunia untuk melihat sebanarnya apa yang terjadi disana, dengan memberikan kebebasan untuk bisa datang ke Xinjiang.  Dengan sikap terbuka yang dilakukan oleh pemerintah China inilah sehingga masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia  bisa melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Apakah benar di sana telah terjadi pembantaian terhadap umat Muslim Uighur? apakah benar telah terjadi pemerkosaan terhadap wanita muslim disana?, dan apakah benar umat muslim dilarang beribadah?. Dengan sikap terbuka yang dilakukan pemerintah China masyarakat dunia akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya. 

Maka itu, Ini harus dibuka secara telanjang kepada masyarakat dunia. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Jika ada upaya menutupi itu,  maka wajar jika terjadi kecaman-kecaman dari masyarakat dunia dan khususnya kecaman dari umat muslim di seluruh dunia.

Jika China terbuka soal Uighur maka tidak ada lagi ilusi-ilusi soal ini. Yang ada keyakinan bersama bahwa apa yang terjadi di Uighur bukanlah pelanggaran HAM  bagi umat muslim disana.

Stop hidup dalam lautan ilusi. Hiduplah dengan kebenaran. Dengan berpegang kepada nilai kebenaran kita akan menjadi satu. Tidak akan ada bicara untuk kepentingan politik praktis yang sangat sempit. Inilah yang akan terus memecah belah kehidupan umat manusia.*

*Amir Fiqi

Penulis adalah Wartawan, dan pemerhati sosial, dan aktivis Pemuda Muhammadiyah. 

Tags
SHARE