Majukan Desa? Tekad Perangi Korupsi (Ditagih)

SHARE

Majukan Desa? Tekad Perangi Korupsi (Ditagih) carapandang.com



Oleh:  Mujamin Jassin, Devisi Partisipasi Pembangunan Daerah di Aksaratumapel Foundation

CARAPANDANG - Rapat nasional ini, pikir akan membawa aku ke pulau bajak laut. Bergulat dengan koboi-koboi robot yang belum temukan tata krama di sana.

Diestimasikan anggaran yang cukup untuk mengisi kotak-kotak polos tak bermerek dengan selembar tisu, nasi, telur, ayam (pucat) minus tusuk gigi, dan air mineral lucu.

Manusia urban Kota yang hadir tak diragukan jumlahnya menikmati. Sesekali gelak senyum tersipu duduk mendengar suara toa yang datang dari Desa. Pidato yang tepatnya di beri gelar mendongeng, bernuansa buang-buang waktu begitu tidak mengandung substansial hajat desa.

Bukannya sederhana diucapkan? Berkata jujur, melapor yang tak terpotret mata lensa umum. Bahwa desa kita kotor, panas dan berantakan, contohnya. Sebagai akibat zero (nol) rupiahnya (pilih kasih) Anggaran Dana Desa yang terkelola dengan baik, bersih niat koruptif.

Misalnya pula melapor desa tidak terurus, lantaran sebuah konsekuensi pengolahan kepemimpinan desa yang tak miliki kemampuan insting ide pembangunan sama sekali.

Meski padahal yang mengisi jabatan-jabatan strategis Kabupaten/Kota luar-dalam pulau adalah melimpah orang-orang asal desa tersebut. Anggota Dewan, Kepala-kepala tinggi, Dinas, Camat, hingga kepala paling rendah yang seharusnya (sinergisitas) berperilaku jabatan – jembatan kemajuan desa.

Ironi lain, jika hati di coba periksa. Panjang kertas ticket perjalanan jauh dari kampung, entah merogoh kocek sendiri atau bancakan uang rakyat (SPPD). Betapa paripurna (maha bijaksana), bila saja dipakai beli semen sesak untuk menambal bibir-bibir gang rusak. Disisihkan agar dapat mencetak sendiri pilar-pilar beton, bangun perpustakaan - monumen yang cegah musiman buruk, petaka perang saudara.

Sebab faedahnya apa? Berkat seremonial kian memacu diri ingin membangun desa?! Berkumpul untuk silang-saling mentransformasi segala kekayaan intelektual yang memajukan peradaban desa?

Atau bukan barangkali, tentu saja sekadar memperkuat akan akar hegemoni kelas tokoh non tokoh. Meliput baginda sepatu yang takut tersentuh tanah diantara para sekutu kemiskinan.

Seperti sedang berada di planet lain, tak ada perdebatan apalagi membicarakan tentang sebuah agenda, atau keputusan-keputusan. Hingga jelang sore berhamburan satu demi satu, sepi, tersisa saling tatap muram melihat kawanan sampah yang berserakan. Seluruhnya ini, rekor yang akan menjadi usang (catatan hitam) nantinya.

Sebaiknya aku kalah saja, menghindar rugi bandar dari pameran ini. Sungguh aku bosan menonton mereka yang menyiksa diri demi perburuan – perebutan untung puja-puji.

Halaman : 1