Anies Menjaga Republik

SHARE

Sejak keputusan yang tergolong berani menjelaskan posisi, pengorbanan menyadari bagaimana mungkin partai politik harus terus berada dalam dilema keragu-raguan, menunjukkan sikap diri dengan dimajukannya Anies Rasyid Baswedan sebagai bursa calon Presiden.


CARAPANDANG - Oleh Mujamin Jassin (Pemerhati Sosial-Politik)

Sejak keputusan yang tergolong berani menjelaskan posisi, pengorbanan menyadari bagaimana mungkin partai politik harus terus berada dalam dilema keragu-raguan, menunjukkan sikap diri dengan dimajukannya Anies Rasyid Baswedan sebagai bursa calon Presiden.

Partai NasDem patutlah di acungi jempol telah menyajikan keadaan empirik, menciptakan iklim politik nasional yang tidak lagi situasional. NasDem merekonstruksi total bangunan demokrasi yang hingga hari ini belum menunjukkan substansinya. Soal lain jika akan terima implikasi-implikasinya, minimal menjawab pertanyaan-pertanyaan inti yang menimbun kepala publik.

Misalnya apakah NasDem dapat menderek ketengah Anies “Menjaga Republik” dari stigmatisasi politik identitas ekstrem kanan yang terlanjur di klasterisasikan? Apakah sedemikian buruk?

Yang terpenting, betapa beruntungnya kita, tidak lagi meraba-raba dalam gelap tentang perdebatan politik etis yang batasan esensialitasnya masih sangat abu-abu dalam literatur-literatur. NasDem telah membedakan, dan akan menengahi ekstremitas dengan penyederhanaan mana kubu tradisional yang percaya dengan narasi tradisional dan kubu revolusioner yang melihat politik religiusitas dengan disiplin-disiplin ilmu dan kondisi kekinian.

Terobosan mengusung Anies masuk gelanggang besar politik nasional, lompatan jauh kedepan. Banyak yang mengesankan langkah NasDem ini melampaui keumuman dari kebiasaan lama yang menyimpang dari kreativitas ide baru, mengapa disalahpahami? Tetapi terjawab dengan meminjam istilah pemikir Amerika, Ralph W. Emerson “Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami,” tulisnya.

Kita masih ingat Jokowi memuji NasDem yang selalu bertindak cepat dalam memutuskan sesuatu. Seperti dalam memutuskan Calon Kepala Daerah bahkan dalam menentukan Calon Presiden. Menurut Presiden Jokowi saat ini kecepatan sangat dibutuhkan karena perubahan global pun berjalan begitu cepat.

“Menentukan Calon Gubernur cepat, Bupati cepat, Wali Kota cepat. Itu semua direspons sangat baik oleh Partai NasDem. Kecepatan bertindak, memutuskan, cepat, cepat dan cepat. Saya dari jauh melihat saja geleng-geleng,” kata Jokowi dalam sambutannya pada pembukaan HUT Partai NasDem di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (15/11/2017) silam.

Why Not the Best

Penggolongan gerakan cepat politik NasDem dengan mengusulkan pilihan alternatif. Selain menentang budaya dominasi politik, namun juga sekaligus menunjukkan lain sisi NasDem partai yang religius. Religius sudah barang pasti bukan berkaitan dengan isu-isu atau hal-hal yang supernatural, melainkan kepemimpinan religius yang penuh dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan, sebuah totalitas kepemimpinan yang padu terhadap pemecahan persoalan kehidupan kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan.

Tak diragukan, politik religius yang memang mentereng hanya melekat pada Anies di bandingkan dari stok nama-nama yang sudah mencuat. Anies diyakini tak sekedar mengikuti tiupan angin politik, sirkulasi kekuasaan yang hanya mengakibatkan kadar kebisingan. Tidak terjebak dengan basa-basi para politisi munafikun yang tidak kredibel (pemimpin abal-abal). Sehingga bagi publik tidak mendapatkan gemercik pencerahan dan pencerdasan peradaban apa-apa. Figurnya menguntungkan di tengah memudarnya nilai moral pemimpin politik dalam menuntaskan tugas besar bangsa mendatang.

Anies Baswedan adalah diagnosis penyelesaian multi persoalan, membawa tujuan Indonesia merdeka, menciptakan masyarakat adil, makmur, sejahtera. Kepemimpinannya bakal dapat membangkitkan kembali kepercayaan diri atau harga diri Indonesia di mata dunia global. Indonesia sebagai bangsa besar tak usahlah menerima belas kasihan negara-negara luar (neokalonialisme). Seperti yang juga dulu diyakinkan kaum muda kepada Soekarno-Hatta yang tidak ingin menerima belas kasih Jepang memerdekakan Indonesia.

Perlu diingatkan, bahwa selama rentan waktu panjang memimpin Ibukota negara DKI Jakarta, selain kerjaannya beres. Anies terbukti tidak terjebak pada pergulatan arus ideologis, apalagi mengandung muatan seteru – konflik ideologi. Tentu tidak terobsesi gelagat membandel mainkan proyek islamisasi nasional terdahulu yang sempat mencuat.

"Kenapa Anies Baswedan? Jawabannya adalah why not the best? (mengapa tidak yang terbaik?)," kata Ketua Umum Surya Paloh di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Senin (3/10/2022) lalu.

Anies Baswedan cemerlang, berwawasan organisator, intelektualnya menggagas perbaikan peradaban dan pengembangan praktek berbangsa dan berpolitik. Kejayaan sejarah kiprah sosialnya itu dirinya membuktikan dengan telah mengabdi sebagai akademisi, dan pengalamannya dalam dunia professional.

Nasionalisme Religius

Yang mutakhir, watak religius Anies bisa jadi buah dari manifestasi linear yang bersumber pada kakeknya, pahlawan nasional, Abdurrahman Baswedan yang populer sebagai tokoh ulama organik nasionalis yang berperan ganda di masa-masa awal republik ini merintis kemerdekaan.

Siapa yang memungkiri mendiang kakeknya mentransformasi kecerdasan politik yang bahkan bisa melebihi genetiknya. Kepada cucunya menularkan konsep kepemimpinan yang tumbuh organis jauh lebih matang, daripada pertumbuhan institusi politik itu sendiri. Sehingga kenapa heran, dalam metafora politiknya, bahkan Anies memiliki rebon kelenturan pilihan warna yang bisa saja beda, lebih berkualitas diantara yang lainnya.

Anies sebagai respons dari keadaan bangsa beradab kian alami penyusutan, kenyataan degradasi klasemen, terutama lantaran fenomena pengkategorisasian kelompok politik cebong versus kampret yang telah menjadi duta demokrasi 2019 lalu hingga kini. Keadaan sulit beranjak, lepas diri dari trauma kekalahan sekaligus kemenangan yang tidak membahagiakan jiwa, membangun rasa percaya diri dan memilih merdekakan pikiran.

Kadrunisasi pula pangkalnya negeri ini terkurung dalam cangkang persoalan-persoalan pokok seperti timpang dan genting kubangan kemiskinan, kebodohan dan lainnya yang dipahami dalam pandangan kelompok developmentalisme adalah musuh sejati dari manusia yang masih mengakar hingga sekarang.

Kegentingan terhadap ketidakadilan, ketidaktentraman, serta tak kunjung membaiknya kehidupan berbangsa dewasa ini akibat ketertinggalan pendidikan. Ketimpangan (gap) ekonomi sosial, dan kesenjangan kesejahteraan umum masyarakat.

Modal arus kesukaan publik pada Anies Baswedan seperti yang disajikan dalam berbagai survei, sudah waktunya mewarnai suasana kontestasi politik nasional pada spektrum Pemilihan Umum (Pemilu) mendatang.

Tahun politik 2024 yang harus diakui merupakan tonggak yang menentukan perjalanan sejarah atau nasib bangsa Indonesia kedepan. Lepas diri dari inkonsistensi pemimpin nasional yang justru lebih mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan nasional. Pemimpin inkonsisten yang tidak becus, dan sama sekali bahkan tidak religius mengurus negara.

Seluruh isyarat dan kondisi aktual di atas, adalah sebagai dasar kita agar tak ada alasan mencurigainya. Segera berkemas-kemas kekuatan, mendapatkan keyakinan bahwa Anies bermartabat, memiliki moral, berintegritas dan berjiwa negarawan yang dapat menjaga republik ini. Semua hal itu pula lantas kemudian mambawa kita dalam kecerian suasana berdemokrasi yang riang gembira, karena diantara kita dipastikan lahirnya dialektika yang jernih, ciptakan rumusan gerakan politik kebangsaan (besar-tegas) bersatu dan kompak dalam pemenangannya.