Berkaca pada Humanisme Natsir

SHARE

Natsir


CARAPANDANG - Tanggal 17 Juli 1908, seratus empat belas tahun lalu di daerah sejuk Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, lahir seorang anak laki-laki. Setelah dewasa, anak yang diberi nama Mohammad Natsir itu kemudian dikenal sebagai negarawan terkemuka yang tidak hanya diakui tingkat nasional namun juga internasional.

Pada tanggal 10 November 2008, dalam peringatan seratus tahun kelahirannya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasa yang diabdikan kepada negeri ini.

Begitu banyak pemikiran dan perjuangannya untuk kemajuan bangsa yang dirasakan manfaatnya oleh generasi saat ini. Adapun warisan yang ditinggalkannya diantaranya melalui sejumlah buah pena yang begitu berisi dengan kalimat sastra yang memikat. Capita Selecta, Fiqhud Da’wah merupakan contoh dari sekian banyak tulisannya yang memaparkan tentang visi dan pemikiran beliau dalam berbagai aspek kehidupan.

Natsir yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah, namun menguasai enam bahasa asing di usia yang belia dipercaya tiga kali menjadi Menteri Penerangan dan sekali sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia.

Terdapat sisi humanisme Natsir seperti kebiasaannya menyantap sate ayam dan minum kopi di parlemen dengan sejumlah tokoh yang berdiametral kutub pemikirannya; tinta yang berbekas di kantong kemejanya; baju dinasnya yang bertambal; kursi tamunya yang tetap sama sekalipun telah mengalami mobilitas vertikal posisi politik, berboncengan dengan supirnya naik sepeda ataupun mengembalikan mobil dinas setelah tidak menjabat sebagai Perdana Menteri.

Sebuah teladan yang rasanya perlu kembali kita tengok di masa now. Kala politikus, intelektual, moralis berpadu dalam satu tarikan napas pada manusia.