Olahraga di Tempat Dingin atau Ber-AC Akan Sia-sia?

SHARE


CARAPANDANG - Saat berolahraga, tubuh biasanya akan terasa panas dan mengeluarkan keringat.

Tak heran, olahraga di tempat dingin atau ruangan ber-AC menjadi pilihan. Namun, sebuah anggapan bahwa

olahraga akan percuma jika dilakukan di dalam ruangan dingin menjadi penghalang.

Seperti warganet Twitter ini, menanyakan kebenaran apakah olahraga di dalam ruangan ber-AC adalah sia-sia. "Emang bener klo

olahraga ditempat yang dingin atau ber ac bakalan sia sia?" tanyanya, Minggu (5/3/2023).

Keluarnya keringat juga dipicu jenis olahraga yang dilakukan. Misalnya, jenis olahraga akuatik seperti renang, menurut Michael, tentu tidak akan menghasilkan keringat.

Bukan hanya itu, pengaruh cuaca, termasuk suhu di dalam ruangan, turut menjadi penyebab ada atau tidaknya keringat.

"Hal yang sama terjadi saat olahraga di udara dingin atau berangin, disebut tidak berolahraga, salah. Itu tetap membakar kalori, yang penting bergerak," terangnya.

Michael menegaskan, keringat bukanlah patokan apakah olahraga yang dilakukan sudah cukup atau tidak.

Cara mengukur kecukupan olahraga, menurutnya, harus dilihat dari tujuan melakukannya.

Pertama, olahraga bertujuan untuk pertandingan dan memenangkan piala, maka dikatakan cukup apabila berhasil mengantongi piala.

"Yang dikejar bukan sehat, tetapi piala. Kalau menang berarti latihannya bagus, kalau kalah berarti latihannya kurang," kata dia.

Kedua, apabila olahraga bertujuan untuk kesenangan, maka rasa senang saat menjalani kegiatan ini harus menjadi patokan.

Ketiga, berolahraga dengan tujuan kesehatan. Michael menjelaskan, tujuan ini diukur dari seberapa jauh berubahnya tingkat kesehatan.

"Dulu jarang olahraga sering pusing, sekarang (setelah berolahraga) tidak. Dulu tensi tinggi, sekarang sudah bagus, terkontrol," tuturnya.

"Dengan demikian, kita tidak pernah melihat keringat sebagai ukuran," lanjutnya.

Michael menerangkan, agar olahraga untuk kesehatan aman dan tetap membuahkan hasil, penting untuk mengetahui detak jantung saat berolahraga.

Berikut rumus menghitung detak jantung saat berolahraga:

220 - usia (dalam tahun) Sebagai contoh, apabila saat ini berusia 20 tahun, maka detak jantung 100 persen adalah 220-20=200 kali denyutan per menit.

Batas minimal adalah 60 persen, maka 60 persen dikali 200, hasilnya 120 kali denyutan per menit.

Sementara batas maksimal adalah 80 persen, sehingga 80 persen dikali 200, hasilnya 160 kali denyutan per menit. "Jadi berapa range olahraganya? Antara 120 sampai 160 kali denyutan per menit.

Kalau lebih dari 160 itu kelebihan. Kalau kurang dari 120, itu tidak ada gunanya," jelas Michael. "Itu baru kita katakan tidak ada gunanya kalau kita berlatih kurang dari batasan minimal," imbuhnya.