Guru, Kesejahteraan, dan Praktik Baik Finlandia

SHARE

Guru dan Murid (Direktorat PMPK)



CARAPANDANG - Baru-baru ini saya membaca buku The Smartest Kids In The World: Rahasia Anak-anak Pintar di Dunia, Pola Asuh, dan Sistem Pendidikannya. Pada buku yang tercatat sebagai New York Times Bestseller tersebut disajikan mengapa anak-anak di Korea Selatan, Finlandia, dan Polandia cerdas-ceras dan pintar-pintar. Mencoba menguak rahasia dari ketiga negara tersebut.

Di antaranya yang menarik, saya kutipkan:

…Orang Finlandia merasa untuk serius pada pendidikan mereka harus memilh guru berkualitas tinggi. Yang terbaik dan paling bersinar di setiap generasi lalu, melatihnya dengan tujuan jelas. Itulah yang mereka lakukan. Sebuah strategi jelas yang hanya sedikit negara yang mau mencobanya.

 

Nyatanya untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) serta melakukan transformasi pendidikan memerlukan keyakinan serentak, termasuk dari para pemimpin di level pemerintahan.

Sementara itu di Indonesia, sengkarut masalah pendidikan memang berlapis. Dan perlu bergerak dengan sinergi untuk membenahinya. Diantaranya adalah mengenai guru. Salah satu yang menjadi titik perbincangan hangat adalah mengenai guru honorer. Baik itu mengenai kesejahteraan, proses rekrutmen, kualitas, dan lain sebagainya.

Dalam berbagai kesempatan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pun beritikad untuk memperbaiki secara supply dan demand. Terkait guru honorer sendiri memang merupakan perkara yang rumit dan lintas sektoral. Seperti perihal guru aparatur sipil negara  pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (Guru ASN PPPK) yang memerlukan kolaborasi antara Kemendikbudristek, Kemenpan RB, BKN, Kemenkeu; serta tentu saja pemerintah daerah.

Perkara Guru ASN PPPK hingga kini pun masih riuh mengenai eksekusinya. Ke depan dengan rencana dihapuskannya tenaga honorer pun memantik tanya mengenai para guru honorer. Yang jelas baik itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu gotong royong untuk menghitung supply dan demand dari guru. Tentu di tahap eksekusi hal tersebut merupakan kerja besar nan raksasa.

Adapun jika menilik praktik baik Finlandia yang memilih yang terbaik dan paling bersinar di setiap generasi untuk menjadi guru, tentu bagi pemerintah +62 memerlukan sebuah komitmen dan langkah nyata. Untuk mewujudkannya tentu memerlukan ketaktisan langkah serta alokasi anggaran, serta peta besar kebijakan. Hal yang bisa menjadi perenungan bahwa guru memegang peran krusial untuk mewujudkan SDM Unggul, Indonesia Maju serta mengupayakan generasi emas 2045.