Ayo Berpuisi!

SHARE

Ilustrasi pembacaan puisi (Ditpsmp)

CARAPANDANG.COM, Jakarta - Setiap tanggal 21 Maret dirayakan sebagai Hari Puisi Sedunia.

Perayaan Hari Puisi Sedunia bermula dari penyelenggaraan pertemuan UNESCO ke-30 di Paris, Prancis yang berlangsung Oktober-November 1999. Tercetusnya ide Hari Puisi Sedunia karena puisi dianggap memiliki peranan penting dalam sejarah.

Salah satu tema yang kerap diangkat pada puisi adalah waktu. Seperti puisi Sapardi Djoko Damono berikut:

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

Tema terkait waktu pun dikupas oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril:

Life is an illusion of time.

Yesterday seems like a blast.

Today feels lika forever.

Tomorrow looks like a long way to go.

The heart and mind may stay young,

may want to stay forever young,

but indeed the time moves on

each and every second.

May the time be kind to us,

and may we be wise

with the time we have.

Iwan Syahril, 2015

Puisi pun menjadi kanal aktualisasi bagi penyandang disabilitas tunaganda, Kevin. Simaklah nukilan puisinya berikut:

Tapi, di kala keraguan itu muncul

Aku masih ingat akan nasihat

Dari almarhum sahabatku

Dan dari nasihat guruku

Bahwa hidup ini masih punya makna

Kevin penyandang disabilitas tunaganda (cerebral palsy dan tunadaksa). Kutipan puisi di atas merupakan puisi Kevin yang bertitel “Aku Belum Menyerah”.

Kevin merupakan juara 1 Festival dan Lomba Literasi PKLK 2017 bidang Lomba Cipta dan Baca Puisi. Seperti diungkapkan dalam puisinya, Kevin terinspirasi sosok sahabat karibnya yang bernama Fahri Rahmat Riyadi.

“Kawan ini kawan karib satu kelas. Kemanapun dia pergi, berangkat sekolah selalu bersama. Almarhum dan Kevin sudah ada kesepakatan untuk maju, tidak boleh mundur,” kata guru pendamping Achmad Moroadi.

Fahri mengalami tunanetra total serta pertumbuhan badannya tidak pernah tinggi.

Pada Maret 2016, Kevin harus menerima kenyataan sobat karibnya itu meninggal dunia. Kevin pun sempat terpukul sangat hingga dirinya sempat malas bersekolah.

“Percuma pak saya sekolah karena orang yang tahu tentang saya sudah tidak ada,” ungkap Kevin saat itu seperti diceritakan guru pembimbingnya Achmad Moroadi.

Beruntung Kevin memiliki orang-orang yang tulus dan peduli kepadanya. Diantaranya gurunya Achmad Moroadi yang dengan telaten menumbuhkan kembali semangat Kevin dan mengarahkan memori kehilangan Fahri menjadi inspirasi untuk berkarya.

“Almarhum adalah inspirasi. Tunjukkan kepada almarhum. Kalau kamu ingin membuat almarhum bahagia ya kamu harus bisa menunjukkan apa yang terbaik untuk kamu sendiri,” pesan Achmad Moroadi.

Fahri pun menjadi inspirasi seperti terlacak dalam puisi dan lirik lagu yang dibuat Kevin.

“Saya terinspirasi perkataan almarhum. Sekarang saya melanjutkan perjuangan sahabat saya,” kata Kevin.

Apakah kamu suka membaca dan menulis puisi? Apa puisi favoritmu?

Selamat Hari Puisi Sedunia!


TERPOPULER

RAGAM