Negara Eropa Serahkan Kebijakan Penggunaan Vaksin AstraZeneca Pada Setiap Negara

SHARE

istimewa

CARAPANDANG.COM- Negara-negara Eropa harus membuat keputusan sendiri tentang cara menangani risiko pembekuan darah langka dari vaksin COVID-19 AstraZeneca berdasarkan tingkat infeksi yang terjadi dan ketersediaan vaksin alternatif, menurut regulator obat Uni Eropa pada Rabu (7/4).

Beberapa negara di Eropa telah mengumumkan pembatasan penggunaan vaksin AstraZeneca pada orang yang lebih muda, setelah ditemukan hubungan antara vaksin itu dengan pembekuan darah yang sangat langka, yang kebanyakan terjadi pada wanita di bawah usia 60 tahun dalam waktu dua minggu setelah vaksinasi.

Italia adalah negara terbaru yang mengubah kebijakannya pada Rabu, dengan mengatakan bahwa mulai sekarang akan merekomendasikan penggunaan AstraZeneca hanya untuk mereka yang berusia di atas 60 tahun.

Tetapi Badan Obat Eropa (European Medicines Agency / EMA) menahan diri untuk mengeluarkan pedoman, dengan mengatakan negara-negara harus membuat penilaian keseimbangan risiko sendiri, berdasarkan kondisi lokal yang sangat bervariasi di seluruh blok.

"Kami mencoba memberikan informasi sebanyak mungkin tentang manfaat dan risiko yang telah kami identifikasi, dan berdasarkan itu dan situasi pandemi di negara anggota - tingkat infeksi, ketersediaan vaksin yang berbeda - setiap negara dapat mengambil keputusan yang berbeda tentang siapa yang akan divaksin," kata Direktur Eksekutif EMA Emer Cooke dalam sebuah pengarahan.

Cooke mengatakan risiko kematian akibat COVID-19 "jauh lebih besar" daripada risiko kematian akibat efek samping yang jarang terjadi.

"Sangat penting bagi kami untuk menggunakan vaksin yang kami miliki untuk mencoba dan mengalahkan pandemi ini," katanya.

Sabine Straus, ketua komite keamanan EMA, mengatakan risiko efek samping bukan tidak terduga karena vaksin diluncurkan dalam skala besar.

EMA telah menerima laporan dari 169 kasus pembekuan darah otak langka yang dikenal sebagai trombosis sinus vena serebral (CVST), pada 4 April, kata Straus. Jumlah itu terjadi dari 34 juta dosis suntikan yang diberikan di Wilayah Ekonomi Eropa.

Ada juga tiga kasus pembekuan darah dengan trombosit rendah setelah penggunaan suntikan Johnson & Johnson, kata Peter Arlett, kepala satuan tugas metode dan analisis data. Para ahli mengatakan kepada Reuters bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan apakah peristiwa ini terkait dengan vaksin tersebut.


Tags
SHARE

TERPOPULER

RAGAM