Kelima, dan yang paling mendasar, adalah kemanusiaan. Di sinilah seluruh Panca Dharma bermuara. Namun realitas menunjukkan bahwa pendidikan kita masih cenderung kompetitif dan individualistik. Kasus perundungan di sekolah, tekanan psikologis akibat tuntutan akademik, hingga praktik diskriminasi menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan belum sungguh menjadi inti pendidikan. Kemanusiaan terkesan dipinggirkan demi angka atau nilai tertinggi.
Bauman mengingatkan bahwa krisis moral modern bukan karena manusia tidak tahu apa yang baik, tetapi karena tanggung jawab telah dipindahkan dari individu ke sistem. Dalam konteks pendidikan Indonesia, kita sering menyalahkan kurikulum, kebijakan, atau teknologi, tetapi lupa bahwa pendidikan pada dasarnya adalah relasi manusiawi; antara guru dan murid, antara individu dan sesamanya.
Di titik ini, Panca Dharma harus dibaca bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kritik. Ia menantang kita untuk merenungkan: apakah pendidikan kita masih membumi (kodrat alam)? Apakah ia membebaskan (kemerdekaan)? Apakah ia berakar (kebudayaan)? Apakah ia mempersatukan (kebangsaan)? Dan yang terpenting, apakah ia memanusiakan (kemanusiaan)?