Dalam pengumuman di platform Truth Social pada Selasa (5/5/2026), Trump menyatakan bahwa keputusan ini diambil atas permintaan Pakistan yang bertindak sebagai mediator.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa peristiwa ini menunjukkan tidak ada solusi militer untuk krisis politik dan menyebut "Project Freedom adalah Project Deadlock".
Tudingan ini langsung membantah klasi resmi dari Komando Pusat AS (CENTCOM) yang sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya menargetkan enam kapal cepat yang dimiliki Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Survei yang dilakukan terhadap 2.560 orang dewasa AS pada 24-28 April 2026 tersebut juga mencatat tingkat persetujuan (approval rating) Trump hanya berada di 37 persen, sedikit menurun dari 39 persen pada Februari lalu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengerahkan lebih dari 100 pesawat tempur, kapal perusak berpemandu rudal, platform tanpa awak, serta sekitar 15.000 personel untuk mendukung misi yang dipimpin Presiden Donald Trump ini.
Wakil Inspektur Markas Militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita semi-resmi Fars pada Sabtu (2/5/2026), menegaskan bahwa berbagai bukti menunjukkan AS tidak berkomitmen pada perjanjian apa pun.