Berbeda dengan plastik biasa yang bisa bertahan hingga ratusan tahun, kantong berbahan singkong ini dapat terurai jauh lebih cepat, terutama ketika terpapar air atau mikroorganisme di tanah. Hal ini menjadi solusi penting di tengah meningkatnya masalah sampah plastik, khususnya di lautan.
Indonesia sendiri masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia. Banyak limbah plastik sekali pakai yang berakhir di sungai dan laut, kemudian terpecah menjadi mikroplastik yang berbahaya bagi ekosistem dan rantai makanan.
Kehadiran alternatif seperti kantong berbahan singkong diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis minyak bumi, tanpa harus mengubah kebiasaan masyarakat secara drastis. Inovasi ini juga menunjukkan bahwa solusi terhadap masalah lingkungan tidak selalu rumit, bahkan bisa berasal dari bahan sederhana yang selama ini dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti singkong, langkah kecil ini berpotensi memberikan dampak besar dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya laut Indonesia dari ancaman sampah plastik.(lin)