Beranda Ekonomi Rupiah Anjlok ke Level Rp 17.035 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah

Rupiah Anjlok ke Level Rp 17.035 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berakhir melemah tajam pada perdagangan Senin (6/4/2026), ditutup di level Rp 17.035 per dolar AS.

0
ilustrasi

Selain geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh data ketenagakerjaan AS yang solid. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan penambahan 178.000 lapangan kerja pada Maret 2026, jauh di atas konsensus pasar sebesar 60.000, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%.

Dari dalam negeri, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 99,8 triliun. Hal ini turut menambah kekhawatiran investor terhadap ruang fiskal Indonesia di tengah tekanan eksternal.

Analis MUFG menilai, meskipun kenaikan harga komoditas dapat meningkatkan pendapatan Indonesia, ruang fiskal yang terbatas meningkatkan risiko pemotongan belanja atau penyesuaian harga bahan bakar yang dapat menghambat pertumbuhan.

Menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) disarankan untuk memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di berbagai instrumen pasar keuangan, termasuk pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Surat Berharga Negara (SBN).

"BI melakukan intervensi langsung di pasar spot, pasar DNDF serta pasar SBN untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valas," ujar analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here