Ayat ini adalah sebuah mukjizat ilmiah. Pada masa itu, tidak ada seorang pun yang memahami kerumitan dan keunikan sidik jari. Namun, Allah secara spesifik menyebutkan "jari-jemari" (bananahu), bukan hanya tulang secara umum. Mengapa? Karena jari-jemari, dengan pola sidik jarinya yang tidak mungkin sama, adalah bukti paling otentik dari identitas pribadi setiap manusia. Bahkan jika tulang-belulang seluruh tubuh telah hancur dan bercampur, Allah menegaskan bahwa Dia mampu menyusun kembali setiap jari-jemari—dan dengan demikian, mengembalikan identitas setiap individu dengan sempurna. Ini adalah sebuah janji ilahi yang membuktikan kekuasaan-Nya yang tak terbatas.
Keunikan sidik jari yang tak tertandingi telah menjadi fondasi bagi revolusi teknologi dalam bidang keamanan dan identifikasi. Pada awalnya, identifikasi sidik jari dilakukan secara manual, memakan waktu lama dan rentan terhadap kesalahan manusia. Namun, dengan kemajuan teknologi digital, proses ini telah berubah secara drastis. Saat ini, biometrik sidik jari adalah salah satu metode otentikasi yang paling umum digunakan, mengintegrasikan keunikan biologis manusia dengan sistem komputer. Prosesnya dimulai dengan perekaman sidik jari.