“Pelajar dapat menjadi penghubung penyebaran informasi mitigasi ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika pemahaman ini dimiliki sejak dini, maka budaya siaga bencana akan tumbuh lebih kuat di tengah masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pembentukan budaya siaga bencana membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat. Karena itu, kegiatan tersebut turut melibatkan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Wilayah IV dan Kementerian Agama Kota Payakumbuh guna memperluas jangkauan edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Payakumbuh, Devitra, menyampaikan bahwa pemahaman terhadap tingkat kerawanan wilayah menjadi salah satu faktor penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Menurutnya, BPBD terus melakukan pemetaan berbagai potensi ancaman yang ada sebagai dasar penyusunan kebijakan mitigasi yang lebih tepat sasaran dan sesuai karakteristik wilayah.
“Semakin baik masyarakat memahami risiko yang ada di lingkungannya, maka semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan saat bencana terjadi,” ujar Devitra.
Pada kesempatan tersebut, para peserta juga mendapatkan materi dari Komandan Pos Basarnas Kabupaten Lima Puluh Kota, Roni Nur, terkait teknik dasar penyelamatan diri dan langkah-langkah yang harus dilakukan pada saat-saat awal pascabencana.