Banyak sekolah dasar di Jepang mewajibkan para siswa untuk membersihkan ruang kelas dan halaman sekolah mereka sendiri. Ekspektasi serupa juga sering kali diterapkan di lingkungan kerja, di mana para karyawan turut membantu merawat ruang-ruang bersama.
Jepang memiliki tempat sampah umum yang relatif sedikit, dan banyak masyarakatnya sudah terbiasa membawa pulang sampah mereka alih-alih membuangnya di tempat umum.
Namun, para peneliti mengingatkan agar tidak memandang perilaku tersebut sebagai bukti bahwa Jepang bebas dari masalah sosial.
Barbara Holthus dari Institut Jerman untuk Kajian Jepang mengatakan sangat penting untuk tidak menyanjung masyarakat Jepang secara berlebihan, mengingat setiap negara pasti memiliki tantangan dan kekurangannya masing-masing.
Dia menuturkan bahwa perilaku sosial dibentuk oleh pola asuh dan keinginan kuat untuk menghindari timbulnya ketidaknyamanan bagi orang lain.
Perhatian yang diterima oleh aksi tersebut selama bertahun-tahun kemungkinan juga menjadi faktor lainnya.
Jeff Kingston, seorang profesor sejarah di kampus Jepang Universitas Temple, menyatakan liputan media yang luas telah membantu menjadikan perilaku tersebut sebagai sumber kebanggaan bagi banyak suporter.
Perdebatan tersebut memicu reaksi yang beragam di dunia maya.