Beranda Internasional Ayatollah Ali Khamenei, Dari Masyhad ke Teheran

Ayatollah Ali Khamenei, Dari Masyhad ke Teheran

Di usianya yang ke-86, kehidupan seorang ulama yang bermula dari kesederhanaan ini berakhir dengan cara yang paling kontroversial, meninggalkan bangsa yang terpolarisasi dan kawasan yang gamang.

0
Ayatollah Ali Khamenei (The Guardians)

CARAPANDANG - Udara malam di Teheran masih menyisakan gema dentuman yang merenggut nyawa seorang tokoh yang mendefinisikan Iran selama lebih dari tiga dekade.

Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi kedua dalam sejarah Republik Islam Iran, dipastikan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, Jumat waktu setempat.

Di usianya yang ke-86, kehidupan seorang ulama yang bermula dari kesederhanaan ini berakhir dengan cara yang paling kontroversial, meninggalkan bangsa yang terpolarisasi dan kawasan yang gamang.

Ali Hosseini Khamenei dilahirkan pada 19 April 1939, di kota suci Masyhad, Iran timur laut. Ia adalah anak kedua dari keluarga ulama kelas menengah.

Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, adalah seorang pemuka agama terkemuka yang hidup dalam kesederhanaan . Sejak kecil, ia ditempa dalam pendidikan agama yang ketat.

Pada usia 4 tahun, ia mulai belajar alfabet dan Al-Qur'an, dan di usia 11 tahun, ia resmi menyandang predikat mullah (rohaniwan) setelah mempelajari dasar-dasar fikih.

Hasratnya akan ilmu agama membawanya ke kota suci Qom, pusat pembelajaran Syiah, di awal tahun 1960-an. Di sanalah ia bertemu dengan seorang guru yang akan mengubah jalan hidupnya: Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Di bawah bimbingan Khomeini, Khamenei muda tidak hanya belajar tentang teologi, tetapi juga tentang politik dan perlawanan terhadap kekuasaan lalim.

Saat itu, rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Barat menjadi musuh bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here