Lirik-liriknya yang kritis terhadap korupsi dan kebusukan politik, seperti dalam lagu ikoniknya "Balidan", sangat beresonansi dengan pemuda Nepal yang frustrasi.
Lagu-lagunya, termasuk "Nepal Haseko", menjadi anthem selama protes September lalu dan telah ditonton jutaan kali di YouTube.
Gaya kampanye Shah pun tidak konvensional. Ia lebih banyak menghindari media arus utama dan memilih berkomunikasi langsung dengan publik melalui media sosial, di mana ia memiliki jutaan pengikut di Facebook, Instagram, dan YouTube.
Dalam kampanyenya, ia sering kali bertindak spontan, menyetir sendiri, dan tiba-tiba berhenti untuk menyapa warga.
Penampilannya yang khas dengan kacamata hitam dan pakaian serba hitam juga telah menjadi tren mode di kalangan anak muda Nepal.
Meskipun populer, kritik juga dialamatkan kepada Shah. Gaya komunikasinya yang blak-blakan dan terkadang kontroversial, termasuk pernah melontarkan kata-kata kasar kepada India, China, dan AS di media sosial, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapannya memimpin.
Sebagai wali kota, ia juga dikritik karena dinilai menggunakan pendekatan keras terhadap pedagang kaki lima.
Jika Shah dan RSP berhasil memenangkan kursi dan membentuk pemerintahan, ini akan menjadi perubahan besar dalam politik Nepal yang selama puluhan tahun didominasi oleh partai-partai besar dengan para pemimpin yang sudah lanjut usia.