Ia menjelaskan Bulog saat ini tengah menjalankan strategi distribusi secara luas dengan melibatkan banyak unsur pemerintah dan swasta melalui pola koordinasi pentahelix.
"Penyaluran beras itu melibatkan seluruh stakeholder pemerintah. Contoh umpamanya penyaluran beras SPHP kami libatkan TNI, Polri, Pemda, kemudian teman-teman pengusaha bahkan sampai dengan ritel-ritel modern, Alfamart, Indomaret, termasuk RPK-RPK (Rumah Pangan Kita) yang kita miliki," ujarnya.
Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) selama ini menjadi salah satu instrumen utama Bulog untuk menyalurkan beras medium ke masyarakat melalui jaringan distribusi resmi agar harga di tingkat konsumen tidak melonjak.
Namun, dengan stok yang kini menembus sekitar 5,2 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah, Bulog menilai dibutuhkan terobosan tambahan agar serapan beras di gudang bisa segera mengalir ke pasar dan ke kelompok penerima lain.
Rizal mengatakan jika usulan beras natura itu disetujui, jenis beras yang akan disalurkan adalah beras medium produksi Bulog.
"Berasnya medium," kata dia.
Sejauh ini usulan tersebut masih menunggu pembahasan lebih lanjut dengan pemerintah. Namun Bulog memberi sinyal opsi distribusi nonpasar perlu dibuka lebih luas agar limpahan stok beras nasional tidak berubah menjadi beban penyimpanan di tengah produksi padi yang masih tinggi. dilansir cnnindonesia.com