CARAPANDANG - Harga emas anjlok 2%. Pelemahan terjadi setelah konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026) ditutup di US$ 4047,15 per troy ons. Harganya ambruk 2%.
Pelemahan ini mengakhiri tren positif emas yang menguat 3,08% dalam dua hari sebelumnya.
Pada hari ini, Jumat (24/7/2026), harga emas menguat tipis 0,04% ke US$ 4048,59 per troy ons.
Pelemahan emas salah satunya dipicu lonjakan dolar AS. Indeks melesat ek 101,44 atau rekoe teringgi sejak 25 Juni 2026.
Kenaikan indeks membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
"Lonjakan harga minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi karena pasar menilai bank sentral akan kesulitan menurunkan suku bunga akibat tekanan inflasi. Kenaikan yield merupakan musuh bagi investor emas dan perak karena kedua logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil," kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff. dilansir cnbcindonesia.com