Meski demikian, ungkap Buldan, tak tertutup kemungkinan adanya identifikasi lain yang bersifat lebih personal bagi seorang individu, seperti pemain idola, kekaguman fisik, prestasi, atau gaya permainan yang menjadi inspirasi.
Hal ini menerangkan mengapa banyak penonton Indonesia juga mendukung tim dari Eropa seperti Jerman, Belanda, atau bahkan Inggris yang merupakan negeri asal sepak bola.
"Tim Belanda contohnya, secara historis dianggap dekat dengan Indonesia, karena saat ini banyak pemain naturalisasi dari negara tersebut yang bergabung dengan skuad Indonesia, sehingga membangkitkan identitas baru," terang Buldan yang saat ini mengepalai Unit Jaminan Mutu (UJM) di Fakultas Psikologi UGM.
Menurutnya, identifikasi tersebut tentu bukanlah hal yang negatif selama tidak membawa kerugian dan justru dapat dimanfaatkan untuk hal yang konstruktif.
"Contoh saja, dulu sangat jarang ada tim Asia yang mampu melenggang ke Piala Dunia, namun kini semakin banyak tim Asia yang masuk dan diperhitungkan, hal ini dapat dipetik sebagai bahan inspirasi dan motivasi pribadi bagi para suporter untuk turut berprestasi," ujarnya.
DAMPAK KESEHATAN MENTAL