Meski demikian, Mendagri menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah daerah di Sumbar yang membutuhkan penanganan lebih serius, terutama pada sektor pendidikan, akses jalan, serta pemulihan kawasan wisata dan daerah aliran sungai. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kerja gotong royong lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI-Polri, hingga masyarakat.
Sebelumnya, Gubernur Mahyeldi Ansharullah dalam rakor tersebut melaporkan kondisi terkini penanganan pascabencana di Sumbar. Ia menyampaikan dari 19 kabupaten/kota di Sumbar, sebanyak 16 daerah terdampak bencana hidrometeorologi.
“Bencana yang terjadi telah berdampak pada 307.936 jiwa masyarakat Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, 264 jiwa meninggal dunia, 72 orang dinyatakan hilang, 401 orang luka-luka, dan 10.854 jiwa sempat mengungsi,” ungkap Mahyeldi.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil kajian total nilai kerusakan akibat bencana mencapai Rp15,63 triliun, sementara total kerugian diperkirakan sebesar Rp17,91 triliun, sehingga nilai keseluruhan dampak mencapai Rp33,55 triliun.
“Seluruh data tersebut telah kami tuangkan dalam Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) dan sudah kami serahkan secara resmi kepada Pemerintah Pusat melalui BNPB,” kata Mahyeldi.