Ibnu Katsir (14/495) memperkuat ini:
Artinya: "Dia dinamai Abu Lahab karena kecemerlangan/wajah berserinya..."
As-Sam'ani (6/299) juga senada:
Artinya: "Disebut Abu Lahab karena wajahnya yang 'menyala' karena ketampanan."
Al-Jauhari (1/4747) secara eksplisit menyatakan:
Artinya: "Dia diberi kunyah Abu Lahab karena keindahan atau ketampanannya."
Penutup
Abu Lahab pernah dikenal karena wajahnya yang berseri hingga dijuluki "Si Menyala". Namun, sejarah tidak mengingatnya karena ketampanan, melainkan karena penolakannya terhadap kebenaran.
Julukan yang dahulu menjadi pujian justru diabadikan Al-Qur'an dalam Surah Al-Masad sebagai simbol kebinasaan.
Kisah ini mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh rupa, kedudukan, atau nasab, tetapi oleh iman, akhlak, dan sikapnya terhadap petunjuk Allah.