Tak hanya itu, perselingkuhan yang marak terjadi saat ini juga bermula dari perhatian-perhatian kecil yang diberikan oleh pasangan terhadap lawan jenisnya melalui chat, kemudian berkembang menjadi micro cheating, lalu masuk ke dalam tahap hubungan perselingkuhan. Ketika perilaku ini terungkap, salah satu pihak pastinya akan merasa down dan terluka.
Korban perselingkuhan yang merasa dikhianati akan membuat dirinya merasa tak aman dalam hubungan, bahkan selalu dihantui rasa insecure dan berpikir “Apa yang kurang dari diriku?”
Walaupun sebagian orang berusaha untuk memperbaiki dan memaafkan perilaku pasangannya tersebut, akan tetapi luka yang ditimbulkan akibat perselingkuhan sangatlah sulit untuk dipulihkan. Apalagi setelah kepercayaan retak, hubungan dipenuhi curiga, overthinking, dan rasa tidak tenang. Setiap keterlambatan, pesan yang disembunyikan, atau perubahan sikap bisa memicu konflik baru.
2. Masalah ekonomi yang bikin stres
Masalah keuangan bukan cuma soal penghasilan yang kecil, tetapi bagaimana besarnya kebutuhan, gaya hidup, kebiasaan mengatur finansial, dan sebagainya. Dalam hubungan rumah tangga, konflik juga bisa muncul karena utang, kebiasaan boros, kurang transparan soal uang, atau beban finansial yang ditanggung oleh pihak perempuan.