Jika pasangan tidak kompak membuat batasan, pihak luar bisa memicu konflik terus-menerus. Salah satu pasangan merasa tidak diprioritaskan atau tidak dibela, sehingga rumah tangga jadi terasa sesak karena keputusan tidak diambil berdua sebagaimana mestinya. Rumah tangga yang harusnya dikontrol oleh suami dan istri, kini harus kehilangan batasan privasi itu sendiri.
8. Mulai merasa ada perbedaan visi dan misi dalam mencapai tujuan hidup
Di awal menikah, pasangan mungkin merasa cinta saja cukup. Namun seiring berjalannya waktu, perbedaan nilai dan tujuan hidup bisa muncul lebih jelas, misalnya soal anak, karier, tempat tinggal permanen di masa tua, gaya hidup, atau prioritas agama.
Ketika visi dan misi hidup terlalu jauh berbeda, setiap keputusan besar akan memicu perdebatan dan tidak mungkin rasa ingin menyerah juga menyertainya. Dampak yang paling sering terjadi dalam pernikahan saat menghadapi situasi ini adalah sulitnya membangun masa depan bersama jika arah yang dituju tidak sama.
Beberapa pasangan bahkan sudah mencari jalan keluarnya, akan tetapi solusi tersebut memang sulit untuk diimplementasikan, sehingga perpisahan kerap menjadi pintu terakhir untuk membebaskan rumah tangga dari perbedaan keduanya.
9. Menikah terlalu cepat atau terlalu muda
Menikah terlalu dini karena tekanan sosial sangat tidak dianjurkan. Menikahlah karena kamu memang siap!