Selain itu juga yang menarik dari masyarakat Badui, di antaranya kehidupan yang sederhana dengan bercocok tanam ladang menggunakan sistem tumpang sari hingga cadangan pangan hasil padi gogo yang disimpan dalam " Leuit" atau rumah pangan.
"Itu bisa menjadi contoh bagi kita di sini, sebagai bahan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Kadir.
Sementara peserta dari PWI Bengkulu Hassan Ul Hakim mengatakan dirinya baru pertama mengunjungi permukiman adat masyarakat Badui, yang selama ini dia hanya mengenal Badui melalui media sosial.
Namun setelah melihat masyarakat Badui dalam rangkaian HPN cukup menarik, karena kehidupan mereka asli tanpa modernisasi.
Selain itu juga ekosistem dan habitat di permukiman Badui masih asri dan hijau pada kawasan hutan lindung,hutan larangan dan hutan produksi.
Masyarakat Badui benar-benar menjaga kelestarian alam dengan kuatnya adat itu yang menjadi pijakan hukum.
"Masyarakat Badui akan menindak tegas pelaku kerusakan lingkungan dan alam, karena bisa menimbulkan malapetaka kerusakan ekologi. Dan, pelestarian alam dan lingkungan merupakan warisan leluhur yang harus dijaga oleh masyarakat Badui," kata Hassan.
Sekretaris PWI Banten Fahdi Khalid mengatakan wartawan yang mengikuti Kemah Budaya Wartawan dapat menulis dan menggambarkan kehidupan masyarakat Badui, dimana ada yang dilarang juga ada yang tidak dilarang.