Ia menekankan pengasuh yang menghentikan tontonan, harus menyiapkan kegiatan yang berkualitas. Misalnya dengan mengajak berbicara saat makan, bermain puzzle atau menyusun balok. Seluruh kegiatan itu dapat membantu mengembangkan otak anak lebih maksimal.
"Jadi tidak bisa, pokoknya gadget-nya diambil saja, habis itu terserah anak mau ngapain. Kegiatan pengganti yang ideal itu memang kalau anak bisa bermain interaktif dengan pengasuhnya," ucapnya.
Dia turut menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menyalakan televisi sepanjang hari. Hal tersebut sangat disayangkan karena dapat membuat anak terbiasa untuk tidak merespons orang lain saat diajak berinteraksi.
"Karena anak terbiasa mendengar orang berbicara, jadi aku tidak perlu merespons karena tidak ada orang yang kecewa jika aku tidak merespons televisi," katanya.