Sebagai bentuk balasan, Iran tidak hanya melancarkan serangan drone dan rudal, tetapi juga secara efektif menutup Selat Hormuz sejak awal Maret. Jalur perairan ini merupakan titik transit minyak paling vital di dunia, dan penutupannya telah menyebabkan lonjakan harga minyak global.
Di tengah retorika perang yang meningkat, Presiden Trump sebelumnya telah memperingatkan anggota NATO di Eropa tentang masa depan yang buruk jika mereka menolak membantu mengamankan Selat Hormuz. Trump menekankan bahwa Eropa dan Tiongkok sangat bergantung pada minyak dari Teluk.
Namun, seruan Washington untuk membentuk koalisi armada laut di kawasan tersebut tidak disambut baik oleh semua sekutu.
Jepang dan Australia telah menyatakan penolakan untuk mengirimkan kapal perang mereka ke Selat Hormuz.
Menteri Transportasi Australia, Catherine King, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengirim kapal dan akan berkontribusi melalui penyediaan pesawat di Uni Emirat Arab.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga mengatakan kepada parlemen bahwa Tokyo belum membuat keputusan apa pun terkait pengiriman kapal pengawal.
Dalam perkembangan terpisah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam panggilan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Minggu (15/3) menuduh bahwa serangan AS baru-baru ini terhadap Pulau Kharg dan Abu Musa diluncurkan dari wilayah beberapa negara Teluk.