IDF menambahkan bahwa pemeriksaan operasional komprehensif di wilayah Bani Hayyan menyimpulkan tidak ada alat peledak yang ditempatkan oleh pasukan Israel di area tersebut, dan tidak ada personel IDF yang berada di lokasi kejadian.
Israel menekankan bahwa operasi mereka di wilayah tersebut ditujukan untuk melawan Hizbullah, bukan UNIFIL, Tentara Nasional Lebanon, maupun warga sipil.
"Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif, di mana mereka beroperasi melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Oleh karena itu, tidak seharusnya diasumsikan bahwa insiden yang menimpa personel UNIFIL disebabkan oleh IDF," tegas pernyataan militer Negeri Zionis tersebut.
Klaim Israel ini muncul di tengah hasil investigasi sementara dari PBB yang menyebutkan bahwa proyektil yang menewaskan Praka Farizal Rhomadhon pada Ahad (29/3) berasal dari tembakan tank Israel.
Sumber di PBB mengungkapkan bahwa penyelidikan menunjukkan tembakan berasal dari tank Israel, dan serpihan peluru tank ditemukan di lokasi kejadian.
Insiden beruntun ini terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan, yang memanas sejak 2 Maret 2026.
Tiga prajurit TNI yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon (29 Maret), serta Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan (30 Maret).