“Selama ini kita fokus mengobati orang yang sudah sakit, tetapi kontak eratnya jarang diperiksa. Padahal, daripada dua atau tiga tahun lagi mereka menjadi pasien Tb, lebih baik kita cegah dari sekarang melalui TPT,” katanya.
Hingga 26 Juli 2026, capaian penemuan kasus Tb di Kota Bogor telah menyentuh 71,9 persen dari target 90 persen. Wamenkes berharap, masifnya pencarian kasus aktif ini dapat secara nyata menurunkan kurva kasus Tb nasional pada 2028 hingga 2029 mendatang.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebutkan, meski memiliki angka harapan hidup di atas rata-rata nasional, Kota itu masih menghadapi tantangan besar terkait kepadatan penduduk yang berpotensi mempercepat penularan penyakit menular.
“Kehadiran program eliminasi Tb dari Kemenkes ini sangat berarti. Kami berharap kolaborasi ini manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Kota Bogor,” kata Dedie.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena memaparkan bahwa pada 2025, Kota Bogor menempati peringkat kelima dengan beban Tb tertinggi di Jawa Barat. Tercatat ada 10.577 kasus dengan incidence rate 955 per 100 ribu penduduk.
"Menariknya, dari total pasien yang dirawat di Kota Bogor, hanya 62 persen yang merupakan warga asli Kota Bogor. Sisanya berasal dari Kabupaten Bogor (35 persen) dan luar wilayah (3 persen). Kondisi ini menjadikan Kota Bogor sebagai rujukan layanan Tb, namun di sisi lain menambah tantangan dalam pemantauan pasien lintas wilayah," jelas dr. Erna.