Pengalaman demi pengalaman kini telah Ndarboy rasakan hingga akhirnya berada di jalur kesuksesan. Ia pun bisa membedakan proses berkarya dulu dengan sekarang yang berkiblat dengan algoritma internet.
“Kadang kita dulu rilis, nulis, rilis, nulis, rilis. Mau ada yang dengerin apa enggak, kita masa bodo lah. Tujuannya yang penting berkarya. Sekarang kita di era digital ini lihat insight, engagement, terus tren apa, algoritma. Kita harus menyesuaikan rilisku, insight-ku, nanti turun atau naik. Harus dipertimbankan. Yang dulu berkarya benar-benar tulus pakai hati, sekarang tulus pakai hati tapi dipikir (trennya),” ucap Ndarboy yang menekuni karier bermusiknya sejak 2010.
Penerus Didi Kempot dan Manthous
Jauh sebelum Ndarboy, musik pop Jawa terkenal berkat sejumlah nama. Misalnya Anto Sugiartono alias Manthous yang menciptakan genre campursari sekitar 1980-an. Selain itu, terdapat Didi Kempot yang sosok dan lagu-lagunya terkenal sampai Suriname, negara yang juga pernah jadi jajahan Belanda.
Ndarboy sendiri sadar kini tongkat estafet melestarikan lagu-lagu Jawa secara ngepop sebagian ada di dirinya. Ia pun merasa bangga dan menilai skena musik ini akan tetap eksis karena sudah menjadi ladang pekerjaan bagi banyak orang.