Tidak ada jaminan gerakan itu akan berhasil. Dukungan masyarakat pun masih sangat terbatas. Akan tetapi, ketika usaha membuahkan hasil, Ananto mulai panen dukungan. Kala itu, sampah yang terkumpul berhasil dijual dan menghasilkan sekitar Rp500 ribu dalam sepekan.
Nominal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun saat itu biaya SPP sekolah berkisar Rp60 ribu per bulan. Artinya, hasil penjualan sampah mampu membantu biaya pendidikan sekitar delapan anak.
Dari situlah warga mulai melihat manfaat nyata dari program tersebut dan kepercayaan masyarakat pun tumbuh. Banyak warga yang menyumbangkan sampahnya. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian menyerahkan barang-barang bekas bernilai lebih tinggi, mulai dari peralatan elektronik hingga sepeda motor yang sudah tidak digunakan.
Masjid Tidak Hanya untuk Ibadah
Seiring waktu, Masjid Al-Muharram tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat salat dan kegiatan keagamaan.
Masjid berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Dana hasil pengelolaan sampah digunakan untuk membantu pendidikan anak yatim dan dhuafa, memberikan santunan bagi janda fakir miskin, hingga membantu biaya kesehatan warga kurang mampu.
Bagi Ananto, keberhasilan terbesar gerakan ini bukan semata-mata jumlah dana yang terkumpul. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah.