Kedua, teknologi penyimpanan karbon atau carbon storage. Teknologi ini bertujuan menangkap karbon dioksida hasil aktivitas manusia lalu menyimpannya di bawah tanah agar tidak semakin memperparah perubahan iklim.
Sempat Tumbang Saat Pandemi
Di balik pencapaian akademiknya, Astin juga pernah mengalami masa sulit. Pandemi Covid-19 membuat aktivitas laboratorium berhenti dan penelitiannya tertunda.
“Masa Ph.D. itu salah satu masa paling berat dalam hidup saya. Saya sempat sakit karena stres psikosomatis, susah tidur, dan merasa kewalahan ketika pandemi datang dan semua kegiatan di lab dihentikan,” kenangnya.
Psikosomatis adalah kondisi ketika tekanan psikologis memunculkan keluhan fisik, seperti sakit kepala, sulit tidur, atau kelelahan, meskipun tidak ditemukan gangguan organ tertentu. Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya.
“Dulu saya terlalu fokus pada logika dan hasil, seperti robot. Tapi setelah berinteraksi dengan banyak orang, saya belajar untuk lebih berempati, lebih memahami perasaan orang lain,” ujarnya.
Baginya, pendidikan ternyata tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga kepekaan terhadap orang lain.
Memilih Pulang dan Membangun Riset di Indonesia
Setelah menyelesaikan studi doktor dan sempat menjadi asisten profesor di Jepang, Astin memilih pulang pada 2025. Keputusan itu bukan semata karena rindu kampung halaman.