CARAPANDANG - Ada yang bilang, hidup itu soal meninggalkan jejak. Tapi Bung Hatta seolah-olah justru berusaha tidak meninggalkan apa-apa, kecuali nilai-nilai yang dalam, sunyi, dan menempel di hati orang yang pernah mengenalnya. Lahir di Bukittinggi, 1902. Seorang cendekia, proklamator, wakil presiden, dan satu gelar yang mungkin paling pas menggambarkan laku hidupnya: Bapak Koperasi Indonesia
Tapi kalau kita bicara Bung Hatta cuma dari gelarnya, dari sejarah politik, atau dari fotonya yang diam berdiri di samping Soekarno — kita bakal melewatkan banyak hal. Karena sesungguhnya, Bung Hatta itu lebih dari sekadar tokoh. Beliau adalah teladan hidup yang berjalan dengan kepala tegak dan hati yang tenang.
Sepatu Bally, dan Kesederhanaan yang Menyesakkan; Pernah dengar kisah sepatu Bally?
Bung Hatta muda, waktu belajar di Belanda, terpikat sekali dengan sepatu buatan Swiss itu. Tapi harganya tidak main-main. Dia tahan. Dia pikir, nanti saja, kalau sudah mapan. Lalu waktu berlalu. Dia jadi wakil presiden. Tapi... sepatu itu masih belum dibeli. Bukan karena dia tidak bisa. Tapi karena dia tidak mau. Ia merasa, memakai uang negara buat beli barang mewah bukan haknya. Walau cuma sepasang sepatu.