Ternyata Allah memberikan “izin” kepada ulat tersebut bisa berbicara dengan bahasa manusia, untuk menerangkan keadaannya kepada Nabi Dawud as. Ulat tersebut berkata, “Wahai Nabiyallah, apabila siang datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca: Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar, sebanyak seribu kali. Dan jika malam datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca: Allahumma shalli ‘alaa Muhammad an nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, sebanyak seribu kali.”
Nabi Dawud terkesima dengan ucapan ulat tersebut. Sang ulat berkata lagi, “Lalu engkau, ya Nabi Allah, apa yang akan engkau katakan agar aku memperoleh faedah darimu?”
Nabi Dawud menyesal telah meremehkan ulat tersebut, kemudian menangis penuh rasa takut kepada Allah, bertobat dan berserah diri kepada Allah.
Dari kisah tersebut, kita bisa menanamkan nilai-nilai agama dan juga mengambil pelajaran bahwa Islam merupakan agama yang toleran dan tak pernah memandang rendah orang lain. Dan segala sesuatu yang telah diciptakan pasti ada manfaatnya, terlebih seekor ulat.